Perubahan kulit yang terjadi sekitar masa kehamilan
Banyak perubahan yang terjadi pada tubuh seorang hamil, diantaranya perubahan yang terjadi pada kulit (termasuk rambut, kuku, membran mukosa). Perubahan tersebut adalah :
- Hiperpigmentasi. Warna kehitaman ini bisa lokal mau pun menyeluruh, dan terjadi pada hampir 90% wanita hamil. Warna kehitaman dapat timbul pada garis tengah perut bagian bawah, area sekitar puting payudara, ketiak dan sekitar kemaluan serta yang khususnya paling mengganggu adalah di sekitar leher. Warna kehitaman ini seara bertahap akan berkurang dan menghilang setelah melahirkan.
- Garis demarkasi pigmentari. Pada orang-orang yang berkulit gelap terdapat semacam garis batas bagian luar dan dalam lengan atas dan kaki yang ketika hamil dapat lebih jelas.
- Melasma/flek. Meskipun sekitar samping kanan kiri hidung adalah area tersering, melasma juga bisa timbul di dahi, pipi, bibir atas, hidung dan dagu. Terjadinya pada trimester 2 kehamilan dan dialami sekitar ¾ wanita hamil (dan juga dialami 1/3 wanita yang memakai pil KB oral. Melasma karena kehamilan atau pil KB yang mengandung estrogen sekitar 30% akan menetap
- Striae distensae/stretch marks ini terjadi pada hampir semua wanita hamil selama trimester 2 dan 3 masa kehamilan. Ini dapat timbul di area perut, payudara, bokong dan paha. Ini seperti yang terjadi pada sindrom Cushing’s, terapi steroid, dan perubahan berat badan dalam waktu singkat.setelah melahirkan garis-garis ini akan menipis tetapi kadang tidak bisa hilang sempurna.
- Perubahan rambut dan kuku. 1-5 bulan setelah melahirkan rambut akan rontok dan dapat berlangsung sampai satu tahun sebelum akhirnya tumbuh lagi. Sedang perubahan kuku yang terjadi adalah kuku lebih lunak dan lebih apat tumbuh, ini dimulai sejak trimester 1.
- Perubahan membran mukosa. Yang sering terjadi adalah gingivitis.
- Perubahan vaskular, seperti hemoroid ( ambeien) dan varises di kaki dapat terjadi. Untuk menguranginya penderita dilarang duduk atau berdiri dalam waktu lama.
Sumber : Obstetric and Gynecologic Dermatology. 2nd edition. M Black, M McKay
4 comments November 5, 2008
Cara Pemakaian Tabir Surya : berapa jumlah yang diperlukan agar dapat terhindar dari kanker kulit?
Tidak perlu diragukan lagi bahwa pemakaian tabir surya adalah salah satu cara untuk menghindari berbagai pengaruh buruk radiasi dari sinar matahari termasuk untuk mengurangi risiko terjadinya kanker kulit. Tapi bagaimana cara pemakaian yang benar agar efek fotoproteksi tabir surya bisa kita dapatkan?
Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat memberi petunjuk bahwa penggunaan tabir surya sebaiknya 100mg/50cm2 secara merata atau dengan kata lain 2 mg/cm2 permukaan kulit untuk fotoproteksi. Pencapaian tujuan pada aplikasi tabir surya kurang dari jumlah tersebut tentu tidak optimal.
3 comments November 3, 2008
Berbagai Indeks pada Pemeriksaan Mycobacterium leprae
Maria Ulfa, Indropo Agusni
Bagian /SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo
Surabaya
ABSTRAK
M. leprae merupakan bakteri penyebab penyakit kusta. Pada pemeriksaan mikroskopis dapat dilihat kepadatan, jumlah, bentuk serta viabilitas dari M leprae, yang kemudian ditunjukkan dengan berbagai indeks. Indeks dapat berasal dari hapusan sayatan kulit yaitu indeks bakteri, indeks morfologi dan indeks SFG atau berasal dari hasil biopsi yaitu fraksi granuloma, indeks bakteri dari granuloma dan indeks histopatologi.
Kata kunci : M. leprae, indeks
ABSTRACT
Leprosy is a disease caused by M leprae. Microscopic examination give feature of density, amount, morphology and viability of M. leprae that showed in several index. It comes from slit smears i.e. bacterial index, morphological index and SFG index or from biopsy i.e. granuloma fraction, bacterial index of the granuloma and histopathological index.
Key words : M.leprae, index
Makalah lengkap terdapat di Majalah Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo Surabaya, vol 18, no 3 (2006)
Add comment Oktober 31, 2008
Apa saja sih penyebab rambut rontok ?
Rambut rontok merupakan masalah yang cukup sering dikeluhkan orang. Beberapa faktor di bawah ini mungkin salah satu penyebabnya :
- Demam, 8-10 minggu setelah demam dapat timbul rambut rontok. Bisa agak parah namun tidak total dan biasanya dapat kembali ke keadaan normal.
- Setelah melahirkan. Timbulnya rambut rontok terutama terjadi 1-4 bulan setelah melahirkan dan dapat berlangsung sampai beberapa bulan sesudahnya. Proses pemulihan biasanya berlangsung dalam waktu 4-12 bulan. Rambut rontok dalam kehamilan ini cenderung akan berkurang keparahannya pada kehamilan berikutnya.
- Diet ketat/ kekurangan protein.
- Pengaruh penyakit hipotiroid.
- Kekurangan zat besi.
- Kehilangan darah dan pembedahan dengan anestesi yang lama
- Keganasan/ kanker, gagal ginjal, penyakit hati/lever, dan malabsorpsi
- Stres psikologis, kecemasan dan depresi
- Pengaruh obat-obat tertentu seperti obat sitostatik, colchicine (salah satu obat asam urat), obat anti-tiroid, beberapa obat psikofarmakologi (valproat, karbamazepin, haloperidol), kontrasepsi oral dan obat anti hipertensi ( beta-blocker dan captopril) juga dapat menimbulkan rambut rontok.
10 comments Oktober 31, 2008
PENGOBATAN JERAWAT DALAM MASA KEHAMILAN
Seperti pengobatan untuk penyakit lain, satu hal yang menjadi pertimbangan utama untuk memilih obat jerawat dalam kehamilan adalah apakah obat tersebut benar-benar aman untuk janin. Obat-obat yang meski pun efektif untuk pengobatan jerawat tetapi diketahui memiliki risiko bagi perkembangan janin harus benar-benar dihindari. Sehingga, seorang wanita yang menjalani perawatan untuk jerawat harus memberi informasi kepada dokternya sesegera mungkin begitu ia diketahui hamil.
Dibanding obat-obat oral/ yang harus diminum, tentu pengobatan topikal/oles lebih disarankan. Dari kepustakaan disebutkan bahwa obat topikal seperti benzoil peroksida dan eritromisin dapat dipakai dengan aman pada wanita hamil. Sedangkan obat topical retinoid harus dihindari.
Bila terpaksa memberi obat oral, yang aman digunakan adalah eritromisin. Antibiotika lain yang sering digunakan untuk pengobatan jerawat seperti tetrasiklin dan kotrimoksazol harus dihindari. Selain itu, pemakaian obat hormonal dan isotretinoin sistemik benar-benar dilarang selama masa kehamilan.
3 comments Oktober 28, 2008
Eritroderma
Maria Ulfa, Sunarko Martodihardjo
Bag/ SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FK UNAIR / RSU Dr. Soetomo Surabaya
ABSTRAK
Eritroderma adalah kelainan keradangan kulit yang mengenai hampir seluruh tubuh yang penyebabnya dapat berupa penyakit kulit yang telah ada sebelumnya, penyakit sistemik serta kelainan idiopatik.. Penderita eritroderma sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk dilakukan evaluasi dan terapi. Eritroderma yang disebabkan oleh reaksi obat memiliki prognosis yang baik, sedangkan yang disebabkan oleh kelainan idiopatik cenderung untuk kambuh.
Kata kunci : eritroderma, penatalaksanaan, prognosis
ABSTRACT
Erythroderma is an inflammatory skin disease that effect nearly the entire cutaneus surface and it is caused by pre-existing cutaneus disease, systemic disease and idiopathic disorder. Hospitalization is usually necessary for initial evaluation and treatment. The long term prognosis is good in patients with drug-induced disease, although the course tends to be remitting and relapsing in idiopathic cases
Key words : erythroderma, management, prognosis
Makalah lengkap terdapat di Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unair/ RSU Dr. Soetomo Surabaya vol 18, no 1 (2006)
1 comment Oktober 26, 2008
Berbagai jenis krim pencerah/pemutih
Telah diketahui bahwa lesi pigmentasi yang menimbulkan flek-flek di wajah seperti frekel, lentigen, melasma mekanisme terjadinya karena meningkatnya produksi melanin di kulit. Melanin adalah pigmen yang memberi warna pada kulit, dan ini diproduksi melalui serangkaian proses yang kompleks yang terutama tergantung pada aktifitas enzim tirosinase. Bahan kimia yang dapat menghambat enzim inilah yang dapat berfungsi sebagai krim pemutih.
Lesi pigmentasi di kulit dapat superfisial/ dangkal (di lapisan epidermis) atau dalam (di lapisan dermis). Penentuan ini sangat penting untuk penanganan terapi karena untuk jenis yang dangkal seringkali didapatkan kemajuan dengan krim-krim pemutih, sedangkan untuk lesi yang lebih dalam mungkin diperlukan kombinasi dengan terapi bentuk lain.
Bila dipakai bersamaan dengan regimen perawatan kulit yang lain, biasanya krim pemutih dioleskan pertama kali, setelah itu baru krim yang lainnya.
Di bawah ini adalah beberapa krim pencerah/pemutih yang paling banyak tersedia.
Hidrokuinon. Diantara berbagai jenis krim pemutih, hidrokuinin adalah yang paling sering digunakan di dunia. Hidrokuinon adalah penghambat kuat enzim tirosinase dan efektif mengurangi produksi melanin . konsentrasi yang biasa dipakai adalah 2-4%. Konsentrasi yang lebih tinggi dari 5% tidak direkomendasikan karena berhubungan dengan kejadian iritasi kulit dan okronosis yaitu efek paradoks dan menggelapnya warna kulit pada tempat dimana hidrokuinon dioleskan – suatu efek samping yang jarang ditemukan dan dilaporkan terutama pada penderita di Afrika.
Azelaic Acid. Azelaic acid diresepkan dalam bentuk krim 20% dan efikasinya sebanding dengan hidrokuinon 4%. Efek samping yang sering dikeluhkan adalah gatal dan rasa panas yang sifatnya hanya sementara.
Kojic acid. Ini digunakan dengan konsentrasi 1-4%.
Arbutin. Arbutin adalah bahan yang sering dipakai pada pemutih yang diproduksi di Jepang. Meski belum banyak penelitian yang dapat membuktikan bahwa arbutin efektif menghambat enzim tirosinase, tetapi pada beberapa studi terbukti zat ini dapat memberi manfaat pada penderita dengan lesi pigmentasi.
Zat pemutih lain. Beberapa bahan memliki efek mencerahkan/memutihkan kulit seperti ekstrak licorice/ glabridin dan turunan asam askorbat seperti magnesium ascorbyl phosphate.Efikasi klinis dari bahan-bahan ini masih dikembangkan.
Sumber : Skin rejuvenation, National Skin Centre Singapore 2006
2 comments Oktober 22, 2008
Melasma/ flek pada wajah
Melasma atau lebih dikenal dengan flek-flek pada wajah adalah gangguan pigmen yang sangat sering dijumpai, berupa perubahan warna menjadi kecoklatan pada bagian tubuh yang terpapar sinar matahari, yang biasanya terdapat di wajah dengan distribusi menyerupai masker. Terutama mengenai wanita, dengan faktor penyebab eksaserbasi antara lain paparan sinar matahari, pengaruh hormonal seperti kehamilan dan penggunaan kontrasepsi oral, predisposisi etnis (Hispanik, Asia, Afrika, Amerika) dan herediter.
Ada 3 varian klinis : melasma epidermal, melasma dermal, dan melasma campuran (dua jenis yang pertama). Pemeriksaan lampu Wood akan memperjelas pigmentasi epidermis saja, sehingga alat ini dapat menjadi piranti diagnostik yang cukup akurat.
Pembagian ini penting, agar penderita lebih realistis dalam mengharapkan hasil pengobatan karena tipe melasma epidermal responsif terhadap obat pemutih seperti hidrokuinon dan topikal retinioid. Sebaliknya, pigmentasi dermal sangat sulit diterapi. (bersambung : Jenis-jenis krim pemutih)
1 comment Oktober 18, 2008
Seputar Keputihan yang ‘normal’
Keputihan merupakan keluhan yang tidak jarang dijumpai. Meski tidak semua keputihan yang dikeluhkan adalah benar-benar suatu penyakit, tetapi penderita atau orang tua penderita seringkali merasa khawatir bahwa kondisi tersebut sesuatu yang berbahaya. Waspada tentu sangat baik, tetapi perlu disertai pengetahuan yang benar agar tidak menjadi kecemasan yang berlebihan.
Ada beberapa kondisi dimana keputihan adalah sesuatu yang fisiologis atau bisa dibilang ‘normal’. Kondisi tersebut adalah :
- Pada bayi baru lahir sampai kira-kira berusia 10 hari
- Remaja pada waktu akan haid pertama
- Wanita dewasa bila dirangsang sebelum atau saat akan ’berhubungan’
- Pada waktu sekitar ovulasi (masa subur)
Meski demikian, terkadang tidak mudah membedakan keputihan yang fisiologis (normal) dengan yang memang penyakit (patologis). Pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan bila memang terdapat kecurigaan kearah suatu penyakit, yaitu bila keputihan disertai gejala seperti gatal, berbau, lebih kental, berwarna kehijauan atau berbusa.
2 comments Oktober 10, 2008
Jerawat : diobati sekarang sembuh bulan depan…
Salah paham tentang jerawat bukan saja masalah mitos-mitos penyebab yang berkembang. Seringkali pengobatan jerawat menimbulkan banyak tanda tanya bagi penderitanya. Segala saran dicoba dan karena tidak segera memberi hasil yang memuaskan penderita langsung beralih ke obat lain. Bila dana memungkinkan, seringkali penderita mengunjungi satu klinik ke klinik yang lain dan hasilnya tetap mengecewakan. Kalau sudah begini apa yang salah?
Sebelum membicarakan masalah pengobatan, perlu diketahui sekilas bahwa timbulnya jerawat bukan semata-mata akibat bakteri yang menginfeksi kulit, tetapi juga saling mengait dengan aktifnya kelenjar minyak yang juga dipengaruhi hormon-hormon tertentu dan adanya penumpukan ’kulit mati’ di pori-pori kulit. Sehubungan dengan faktor yang terakhir, proses pergantian sel kulit yang normal biasanya berlangsung antara 26-42 hari, dan pada penderita jerawat, sel-sel mati ini tidak mau ’lepas’ tetapi malah menumpuk dan melekat satu sama lain sehingga menyumbat pori-pori.
Untuk jerawat meradang yang sudah ada relatif lebih mudah diatasi. Yang sulit dan sesungguhnya menjadi tujuan utama pengobatan jerawat adalah mencegah jerawat timbul lagi. Inilah sebabnya untuk mendapat hasil yang baik, pengobatan jerawat memerlukan waktu sekitar 6- 8 minggu, dengan catatan penderita merawat kulit sehari-hari dengan cara yang benar (telah dibicarakan pada tulisan lain tentang jerawat). Bila tidak, tentu tidak akan tercapai hasil yang diinginkan.
Bila kita ke klinik/ dokter, ada 5 prinsip dasar untuk mengobati jerawat, yaitu :
- Menormalkan pengelupasan kulit. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa akibat kulit mati yang melekat dan menumpuk, maka pori-pori jadi tertutup. Sehingga perlu diberi obat untuk menormalkan pengelupasan kulit agar pori-pori selalu terbuka. Pori-pori yang terbuka akan mencegah sebum (produk kelenjar minyak) ikut menumpuk. Dan diketahui sebum merupakan sumber makanan bagi bakteri. Sehingga langkah ini merupakan langkah pertama meski tidak selalu diberikan pertama kali pada waktu penderita ke dokter. Karena obat-obat yang dapat membantu menormalkan pengelupasan kulit tidak boleh diberikan bila kulit masih ada ’luka-luka’, misalnya bila ada banyak pencetan jerawat. Juga bagi wanita hamil dan menyusui perlu perhatian khusus untuk memakai obat golongan ini. Obat yang masuk golongan ini adalah Retinoid.
- Mengurangi atau mengeliminasi bakteri P. Acne (bakteri penyebab jerawat). Langkah ini bisa diatasi dengan pemberian antibiotika, baik yang dioleskan dan bila perlu diminum.
- Mengangkat sumbatan pori-pori. Ini ada hubungannya dengan langkah pertama, tetapi lankah ketiga ini ditujukan pada sumbatan yang sudah ada. Obatnya sama dengan langkah pertama dan ada alternatif lain seperti AHA (alfa hidroksi acid), asam salisilat (BHA).
- Mengurangi inflamasi yang ada. Ini dapat dicapai dengan pemberian obat-obat anti-inflamasi.
- Menurunkan produksi sebum. Ini dapat dicapai dengan pemberian retinoid (seperti langkah pertama dan ketiga) atau pemberian obat ’homon’ seperti pil KB tertentu.
Demikianlah sekilas prinsip pengobatan jerawat, dan perlu diketahui tidak semua penderita jerawat memerlukan semua langkah di atas. Tiap individu perlu pendekatan khusus tergantung masalahnya. Yang jelas, untuk mendapat hasil pengobatan jerawat yang optimal dan terbebas dari jerawat, kita tidak bisa mengharapkan seperti sulap. Harus sabar dan telaten, karena -paling cepat- diobati awal bulan ini baru menunjukkan hasil sekitar akhir bulan depan…
Sumber : Cosmetic Dermatology : principles & practice. Leslie Baumann, MD.
Add comment Oktober 7, 2008