<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mariasonhaji's Weblog</title>
	<atom:link href="http://mariasonhaji.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mariasonhaji.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 06:07:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='mariasonhaji.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a360323038c4fb514b7a6df78affe73b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mariasonhaji's Weblog</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title></title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2009/11/05/176/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2009/11/05/176/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 06:01:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Perbandingan Kadar Titer ASTO pada penderita kusta dengan ENL dan tanpa ENL
Maria Ulfa, Sunarko Martodihardjo, Cita Rosita SP
 
ABSTRAK
Latar belakang : ENL atau reaksi kusta tipe 2 merupakan komplkasi yang sering dijumpai pada kusta tipe BL dan LL. Salah satu pencetus timbulnya ENL adalah adanya infeksi bakteri dan telah diketahui bahwa  pada penderita kusta rentan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=176&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Perbandingan Kadar Titer ASTO pada penderita kusta dengan ENL dan tanpa ENL</strong></p>
<p>Maria Ulfa, Sunarko Martodihardjo, Cita Rosita SP</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p><strong>Latar belakang</strong> : ENL atau reaksi kusta tipe 2 merupakan komplkasi yang sering dijumpai pada kusta tipe BL dan LL. Salah satu pencetus timbulnya ENL adalah adanya infeksi bakteri dan telah diketahui bahwa  pada penderita kusta rentan untuk timbul infeksi streptokokus. Dilakukan tes ASTO untuk mendeteksi adanya antibodi serum terhadap antigen streptokokus.</p>
<p><strong>Tujuan</strong> : Untuk mengetahui peran infeksi streptokokus sebagai pencetus ENL pada penderita kusta.</p>
<p><strong>Metode </strong>: Dilakukan studi dengan disain potong lintang terhadap 32 penderita kusta dengan ENL dan 32 penderita kusta tanpa ENL yang dirawat di unit rawat jalan dan unit rawat inap RSU Dr. Soetomo Surabaya selama bulan April dan Mei 2008. Pada  seluruh penderita dilakukan tes ASTO, dan sebagai nilai normal dipakai patokan kurang atau sama dengan 200 IU. Pada kedua kelompok hasil tes ASTO dibandingkan dan dilakukan tes menggunakan Chi Square untuk melihat adanya perbedaan diantar dua kelompok tersebut.</p>
<p><strong>Hasil</strong> : Hasil tes ASTO &gt; 200 IU terdapat pada 53,1% penderita dengan ENL dan 18,8% penderita tanpa ENL. Terdapat perbedaan yang bermakna di antara kedua kelompok tersebut dengan <em>p</em> = 0,009. Perbedaan yang bermakna ini terutama terdapat pada kelompok BL dengan ENL dan tanpa ENL.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong> : Terdapat perbedaan titer ASTO yang bermakna antara penderita kusta dengan ENL dan tanpa ENL.</p>
<p><strong>Kata kunci</strong> : ENL, ASTO</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p><strong>Background</strong> : ENL or type 2 lepra reactions complicate lepromatous leprosy and borderline lepromatous leprosy. Bacterial infection is one of the factor known to precipitate ENL and patients with leprosy are probably more susceptible to streptococcal infection. ASTO test is performed to detect and measure serum antibodies against streptococcal antigen.<strong> </strong></p>
<p><strong>Objective</strong> : to study the role of streptococcal infection in leprosy patients with ENL</p>
<p><strong>Methode</strong> : Using a cross sectional design study, 32 leprosy patients with ENL and 32 leprosy patients without ENL of Dermato-Venereology outpatient and inpatient clinic Dr. Soetomo Hospital Surabaya from April and May 2008 were examined for ASTO test. The ASTO test of leprosy patient with ENL and without ENL were compared and the Chi Square test were used to find out the differences between two groups.</p>
<p><strong>Result</strong> : The ASTO titer &gt; 200 IU was 53,1% in the group with ENL and 18,8% in the group without ENL. It show significant difference between two groups (<em>p</em>=0,009). The difference especially found in BL type.</p>
<p><strong>Conclusion</strong> : ASTO titer is significantly different between the group with ENL and without ENL.</p>
<p><strong>Key words</strong> : ENL, ASTO</p>
Posted in Kesehatan Kulit  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=176&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2009/11/05/176/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cacar air : kapan masih menular??</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/12/cacar-air-kapan-masih-menular/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/12/cacar-air-kapan-masih-menular/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 01:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[health]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali penderita cacar air atau  istilah medisnya varicella (terutama yang dewasa dan seorang pekerja di luar rumah) atau orang tua seorang penderita anak penderita cacar air bertanya : kapan boleh masuk kantor/ sekolah lagi? Karena bila masuk masih dalam keadaan bisa menularkan penyakitnya tentu akan menjadi ’sumber masalah’ bagi teman-temannya.
Ya, cacar air memang penyakit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=153&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seringkali penderita cacar air atau  istilah medisnya <em>varicella </em>(terutama yang dewasa dan seorang pekerja di luar rumah) atau orang tua seorang penderita anak penderita cacar air bertanya : kapan boleh masuk kantor/ sekolah lagi? Karena bila masuk masih dalam keadaan bisa menularkan penyakitnya tentu akan menjadi ’sumber masalah’ bagi teman-temannya.</p>
<p>Ya, cacar air memang penyakit menular, melalui <em>droplet</em> atau bisa juga karena kontak langsung.</p>
<p>Kebanyakan orang menyangka bahwa cacar air hanya menular ketika sudah timbul bintil-bintil berisi air (<em>vesikel</em>) dan tetap akan menular sampai bekas luka cacar air benar-benar sembuh/ hilang.</p>
<p>Padahal menurut literatur disebutkan bahwa <strong>cacar air bisa menular beberapa hari sebelum timbul lesi di kulit</strong>. Atau dengan kata lain ketika penderita baru pada tahap awal sakit yang ditandai dengan demam, lesu, nyeri otot dan lain sebagainya sebenarnya itu sudah mulai menular dan<strong> terus akan menular sampai munculnya bintil-bintil air yang terakhir</strong>.</p>
<p>Pada waktu lesi telah mengering yang ditandai dengan adanya keropeng (<em>krusta</em>) maka sebenarnya itu sudah tidak menular lagi.</p>
<p>Jadi, bila terkena sakit cacar air memang seharusnya di-isolasi agar tidak menyebarkan penyakit, tapi bukan berarti harus sampai mulus baru bisa masuk sekolah/ kantor lagi..gitu&#8230;..</p>
Posted in Kesehatan Kulit Tagged: artikel, health, kesehatan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=153&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/12/cacar-air-kapan-masih-menular/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masih tentang tabir surya : berapa persen ya beda perlindungan antara tabir surya SPF 15 dan SPF 30?</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/07/masih-tentang-tabir-surya-berapa-persen-ya-beda-perlindungan-antara-tabir-surya-spf-15-dan-spf-30/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/07/masih-tentang-tabir-surya-berapa-persen-ya-beda-perlindungan-antara-tabir-surya-spf-15-dan-spf-30/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 05:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Memakai tabir surya dengan SPF lebih tinggi memang lebih memberi perlindungan, tetapi berapa persen sih bedanya?
Pada buku Cosmeceutical-nya Zoe Diana Draelos (2005)  disebutkan bahwa dengan memakai SPF berturut-turut 4, 8, 15, 30, dan 45 maka persentase radiasi UVB yang akan di-blok berturut-turut adalah 75, 88, 93, 97 dan 98.. (waduh sori banget nggak informatif, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=133&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Memakai tabir surya dengan SPF lebih tinggi memang lebih memberi perlindungan, tetapi berapa persen <em>sih</em> bedanya?</p>
<p>Pada buku <em>Cosmeceutical</em>-nya Zoe Diana Draelos (2005)  disebutkan bahwa dengan memakai SPF berturut-turut <strong>4, 8, 15, 30, dan 45</strong> maka persentase radiasi UVB yang akan di-blok berturut-turut adalah <strong>75, 88, 93, 97 dan 98.</strong>. (waduh sori banget nggak informatif, soalnya saya belum bisa bikin tabel di blog, teksnya gak bisa lurus, jadi malah kacau membacanya)</p>
<p><em>Naaah</em>, dari keterangan tersebut  tampak bahwa memang makin tinggi SPF makin memberi perlindungan, tapi ternyata pada SPF tertentu perbedaan persentasenya kecil dan ini terlihat jelas mulai pada yang SPF 15 ke yang SPF 30, bedanya hanya 4%, apalagi dari 30 ke 45, malah hanya 1% . Padahal makin tinggi SPF jadi makin terasa lengket karena konsentrasi bahan aktif tabir surya yang makin tinggi. Sehingga, pada buku tersebut disebutkan bahwa produk tabir surya dengan SPF yang tinggi ( 30 atau lebih) akan lebih memberi manfaat terutama hanya pada orang-orang yang menderita penyakit tertentu yang berhubungan dengan fotosensitif terhadap UVB.</p>
Posted in Kesehatan Kulit Tagged: artikel, kecantikan, kesehatan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=133&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/07/masih-tentang-tabir-surya-berapa-persen-ya-beda-perlindungan-antara-tabir-surya-spf-15-dan-spf-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Toksik Epidermal Nekrolisis pada Penderita dengan Psoriasis Vulgaris</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/05/toksik-epidermal-nekrolisis-pada-penderita-dengan-psoriasis-vulgaris/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/05/toksik-epidermal-nekrolisis-pada-penderita-dengan-psoriasis-vulgaris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 14:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[case report]]></category>
		<category><![CDATA[laporan kasus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Toxic Epidermal Necrolysis in Psoriasis Vulgaris Patient
Maria Ulfa, M. Yulianto Listiawan
Departement of Dermato-Veneorology  Faculty of Medicine University of Airlangga
dr. Soetomo Hospital Surabaya
 Abstract
 Background : reporting a case of toxic epidermal necrolysis in patient with psoriasis vulgaris
Case : a man 52 years old have been suffered from psoriasis vulgaris for 10 years come to [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=114&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><strong>Toxic Epidermal Necrolysis in Psoriasis Vulgaris Patient</strong><br />
Maria Ulfa, M. Yulianto Listiawan<br />
Departement of Dermato-Veneorology  Faculty of Medicine University of Airlangga<br />
dr. Soetomo Hospital Surabaya</p>
<p style="text-align:left;"><strong> Abstract</strong><br />
<strong> Background </strong>: reporting a case of toxic epidermal necrolysis in patient with psoriasis vulgaris</p>
<p><strong>Case</strong> : a man 52 years old have been suffered from psoriasis vulgaris for 10 years come to our hospital with chief complaint blister on all almost of his body accompanied with high fever. One week before, he complaint about painfull joint then he consumed na diclofenac. Conjunctivitis, erosion on the lips, Nikolsky sign positive and elevation of creatinin have been found. On the 10th  day the TEN lesion was recovered but eritroderma appeared slowly. Histopatology examination showed hyperkeratosis, parakeratosis and neutrofils in epidermis and in dermis there were edema of papilla dermis and perivascular infiltration. The conclusion was psoriasis eritroderma . He got dexametason injection 3x 5 mg with rapid tapering  for 10 days. When the eritroderma arise, he only got supportive therapy. He discharged at the forty-sixth day with good condition.</p>
<p><strong>Discussion</strong> : systemic steroid is contraindicated in psoriasis because it could extent the lesion that exist before and also precipitate the eritroderma. But in this case the drug was still given with consideration that TEN is a life threatening condition. Eritroderma is used to treat  with methotrexate but was obstacled by  elevation of creatinin serum which caused of drug eruption.</p>
<p><strong>Key words</strong> : psoriasis vulgaris, toxic epidermal necrolysis, dexametason</p>
Posted in Kesehatan Kulit, makalah ilmiah Tagged: case report, laporan kasus <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=114&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/05/toksik-epidermal-nekrolisis-pada-penderita-dengan-psoriasis-vulgaris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANTIBIOTIKA TOPIKAL</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/03/antibiotika-topikal/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/03/antibiotika-topikal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 10:36:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tinjauan pustaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[
Antibiotika topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus di bidang kulit. Antibiotika topikal adalah obat yang paling sering diresepkan oleh spesialis kulit untuk menangani akne vulgaris ringan sampai sedang serta merupakan terapi adjunctive dengan obat oral. Untuk infeksi superfisial dengan area yang terbatas, seperti impetigo, penggunaan bahan topikal dapat mengurangi kebutuhan akan obat oral, problem [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=111&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Antibiotika topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus di bidang kulit. Antibiotika topikal adalah obat<span> </span>yang paling sering diresepkan oleh spesialis kulit untuk menangani akne vulgaris ringan sampai sedang serta merupakan terapi <em>adjunctive</em> dengan obat oral. Untuk infeksi superfisial dengan area yang<span> </span>terbatas, seperti impetigo, penggunaan bahan topikal dapat mengurangi kebutuhan akan obat oral, problem kepatuhan, efek samping pada saluran pencernaan, dan potensi terjadinya interaksi obat. Selanjutnya, antibiotika topikal seringkali diresepkan sebagai bahan profilaksis setelah tindakan bedah minor atau tindakan kosmetik (dermabrasi, <em>laser resurfacing</em>) untuk mengurangi resiko infeksi setelah operasi dan mempercepat penyembuhan luka. Akhir-akhir ini kegunaan antibiotika topikal untuk profilaksis setelah tindakan minor dipertanyakan dan akan didiskusikan lebih lanjut di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV"> <strong>BAHAN YANG DINGUNAKAN PADA PENGOBATAN TOPIKAL UNTUK AKNE</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Efikasi antibiotika topikal pada pengobatan akne vulgaris dan rosasea berhubungan langsung dengan efek antibiotika, dan diduga beberapa antibiotika topikal memiliki efek anti-inflamasi dengan menekan <em>neutrophil chemotactic factor</em> atau melalui mekanisme lain. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih antibiotika topikal untuk akne vulgaris karena meningkatnya resistensi terhadap antibiotika yang sering digunakan. Ini menyebabkan para ahli mencari kemungkinan terapi kombinasi untuk akne vulgaris yang dapat mengurangi terjadinya resistensi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Eritromisin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Eritromisin termasuk antibiotika golongan makrolid dan efektif baik untuk kuman gram positif maupun gram negatif. Antibiotika ini dihasilkan oleh <em>Streptomyces erythreus</em> dan digunakan untuk pengobatan akne. Eritromisin berikatan dengan ribosom 50S bakteri dan menghalangi translokasi molekul peptidil-tRNA dari akseptor ke pihak donor, bersamaan dengan pembentukan rantai polipepetida dan menghambat sintesis protein. Eritromisin juga memiliki efek anti-inflamasi yang membuatnya memiliki kegunaan khusus dalam pengobatan akne.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Eritromisin tersedia dalam sediaan solusio, gel, <em>pledgets</em> dan salep<span> </span>1,5 %- 2% sebagai bahan tunggal. Juga tersedia dalam sediaan kombinasi dengan benzoil peroksida, yang dapat menghambat resistensi antibiotika terhadap eritromisin. Kombinasi<span> </span>zinc asetat 1,2% dengan eritromisin 4% lebih efektif daripada dengan Clindamisin. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Clindamisin</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Clindamisin adalah antibiotika linkosamid semisintetik yang diturunkan dari linkomisin. Mekanisme kerja antibiotika ini serupa dengan eritromisin, dengan mengikat ribosom 50S dan menekan sintesis protein bakteri. Clindamisin digunakan secara topikal dalam sediaan gel, solusio, dan suspensi (lotio) 1% serta terutama untuk pengobatan akne. Juga tersedia dalam kombinasi dengan benzoil peroksida yang dapat menghambat resistensi antibiotika terhadap clindamisin. Efek samping berupa kolitis pseudomembran jarang dilaporkan pada pemakaian clindamisin secara topikal.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Metronidazol</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Metronidazol, suatu topikal nitroimidazol, saat ini tersedia dalam bentuk gel, lotio, dan krim 0,75%, serta sebagai krim 1% untuk pengobatan topikal pada rosasea. Pada konsentrasi ringan, obat dipakai 2 kali sehari, sedangkan pada konsentrasi yang lebih tinggi obat dipakai sekali sehari. Metronidazol oral memiliki aktifitas <em>broad-spectrum</em> untuk berbagai organisme protozoa dan organisme anaerob. Mekanisme kerja metronidazol topikal di kulit belum diketahui; diduga efek antirosasea berhubungan dengan kemampuan obat sebagai antibiotika, antioksidan dan anti-inflamasi.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Asam Azelaic</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Asam Azelaic adalah suatu asam dikarboksilik yang ditemukan pada makanan (sereal <em>whole-grain</em> dan hasil hewan). Secara normal terdapat pada plasma manusia (20-80 ng/mL), dan pemakaian topikal tidak mempengaruhi angka ini secara bermakna. Mekanisme kerja obat ini adalah menormalisasi proses keratinisasi (menurunkan ketebalan stratum korneum, menurunkan jumlah dan ukuran granul keratohialin, dan menurunkan jumlah filagrin. Dilaporkan bahwa secara in vitro, terdapat aktifitas terhadap <em>Propionibacterium acnes</em> dan <em>Staphylococcus epidermidis</em>, yang mungkin berhubungan dengan inhibisi sintesis protein bakteri (tempat yang pasti sampai saat ini belum diketahui). Pada organisme aerobik terdapat inhibisi enzim oksidoreduktif. Pada bakteri anaerobik terdapat inhibisi pada enzim oksidoreduksi (seperti <em>tyrosinase, mitochondrial enzymes of the respiratory</em> chain, <em>5-alpha reductase</em>, dan <em>DNA polymerase</em>). Pada bakteri anaerob, terdapat gangguan proses glikolisis. Asam Azelaic digunakan terutama untuk pengobatan akne vulgaris, dan ada yang menyarankan digunakan untuk hiperpigmentasi (misalnya melasma), meskipun FDA tidak menyetujui indikasi ini. Asam Azelaic tersedia dalam sediaan krim 20%.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK TERAPI TOPIKAL PADA INFEKSI BAKTERI SUPERFISIAL</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Mupirosin</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Mupirosin, yang dahulu dikenal sebagai asam pseudomonik A adalah antibiotika yang diturunkan dari <em>Pseudomonas fluorescens</em>. Obat ini secara reversibel mengikat sintetase isoleusil-tRNA dan menghambat sintesis protein bakteri. Aktifitas mupirosin terbatas terhadap bakteri gram positif, khususnya <em>staphylococcus </em><span> </span>dan <em>streptococcus</em>. Aktifitas obat ini meningkatkan suasana asam. Mupirosin sensitif terhadap perubahan suhu, sehingga tidak boleh terpapar dengan suhu tinggi. Salep mupirosin 2% dioleskan 3 kali sehari dan terutama di-indiskasi-kan untuk pengobatan impetigo dengan lesi terbatas, yang disebabkan oleh <em>S. aureus</em> dan <em>Streptococcus pyogenes</em>. Tetapi, pada penderita <em>immunocompromised</em> terapi yang diberikan harus secara sistemik untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Pada tahun 1987 dilaporkan resistensi bakteri terhadap mupirosin yang pertama kali. Setelah itu terdapat beberapa laporan resistensi mupirosin karena pemakaian antibiotika topikal untuk <em>methicillin-resistant S. aureus</em><span> </span>(MRSA). Penelitian terakhir di <em>Tennessee Veterans’ Affairs Hospital</em> menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang salep mupirosin untuk mengontrol MRSA, khususnya pada penderita ulkus dekubitus, meningkatkan resistensi yang bermakna. Lebih lanjut, peneliti Jepang menemukan bahwa mupirosin konsentrasi rendah dicapai setelah aplikasi intranasal dan dipostulasikan bahwa mungkin ini menjelaskan resistensi terhadap mupirosin pada strain <em>S. aureus</em>. Suatu studi percobaan menggunakan salep antibiotika kombinasi yang mengandung basitrasin, polimiksin B, dan gramisidin berhasil menghambat kolonisasi pada 80% (9 dari 11) penderita yang setelah di-<em>follow-up</em> selama 2 bulan tetap menunjukkan dekolonisasi. Semua kasus (6 dari 6) terhadap <em>mupirosin-sensitive</em> MRSA dieradikasi, sedangkan 3 dari 5 kasus terhadap <em>mupirosin-sensitive</em> MRSA dieliminasi. Formulasi baru yang menggunakan asam kalsium (kalsium membantu dalam stabilisasi bahan kimia) tersedia untuk penggunaan intranasal dalam bentuk salep 2% dan krim 2%.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENCEGAH INFEKSI SETELAH TINDAKAN BEDAH ATAU LUKA ATAU UNTUK PENGOBATAN DERMATITIS KRONIK</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;line-height:normal;"><span lang="SV">Antibiotika topikal banyak dipakai untuk mengurangi infeksi setelah tindakan bedah minor, pada dermatitis kronik seperti dermatitis stasis dan dermatitis atopi, atau setelah abrasi ringan pada kulit. Studi terakhir difokuskan pada insidens infeksi setelah biopsi kulit atau tindakan bedah yang diberi antibiotika topikal. Pada beberapa kasus, antibiotika topikal tampaknya<span> </span>menurunkan angka penyembuhan luka. Studi lain<span> </span>menunjukkan bahwa penggunaan<span> </span>pembawa (<em>vehicle</em>) memberi hasil yang sama seperti pemberian antibiotika pada penyembuhan luka tanpa resiko dermatitis kontak iritan atau alergi terhadap bahan antibiotika. Hasil studi yang besar yang membandingkan basitrasin dan petrolatum pada lebih dari 1200 tindakan bedah minor dan biopsi menunjukkan bahwa bahan aktif basitrasin tidak menurunkan angka infeksi secara bermakna, tetapi malah berhubungan dengan dermatitis kontak alergi.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Basitrasin</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Basitrasin adalah antibiotika polipeptida topikal yang berasal dari isolasi strain <em>Tracy-I Bacillus subtilis</em>, yang dikultur dari penderita dengan fraktur compound yang terkontaminasi tanah. Basi ini diturunkan dari <em>Bacillus</em>, dan trasin berasal dari penderita yang mengalami <em>fraktur compound</em> (Tracy). Basitrasin adalah antibiotika polipeptida siklik dengan komponen multipel (A,B dan C). Basitrasin A adalah komponen utama dari produk komersial dan yang sering digunakan sebagai garam zinc. Basitrasin mengganggu sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat atau menghambat .defosforilasi suatu ikatan membran lipid pirofosfat, pada kokus gram positif seperti stafilokokus dan streptokokus. Kebanyakan organisme gram negatif dan jamur resisten terhadap obat ini. Sediaan<span> </span>tersedia dalam bentuk salep basitrasin dan sebagai basitrasin zinc, mengandung 400 sampai 500 unit per gram. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV"><span> </span>Basitrasin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri superfisial pada kulit seperti impetigo, furunkolosis, dan pioderma. Obat ini juga sering dikombinasikan dengan polimiksin B dan neomisin sebagai salep antibiotika tripel yang dipakai beberapa kali sehari untuk pengobatan dermatitis atopi, numularis, atau stasis yang disertai dengan infeksi sekunder. Sayangnya, aplikasi basitrasin topikal memiliki resiko untuk timbulnya sensitisasi kontak alergi dan<span> </span>meski jarang dapat menimbulkan syok anafilaktik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Polimiksin B</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Polimiksin B adalah antibiotika topikal yang diturunkan dari <em>B.polymyxa,</em> yang asalnya diisolasi dari contoh tanah di Jepang. Polimiksin B adalah campuran dari polimiksin B1 dan B2, keduanya merupakan polipeptida siklik. Fungsinya adalah sebagai detergen kationik yang berinteraksi secara kuat dengan fosfolipid membran sel bakteri, sehingga menghambat intergritas sel membran.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Polimiksin B aktif melawan organisme gram negatif secara luas termasuk P<em>.aeruginosa, Enterobacter, </em>dan<em> Escherichia coli</em>. Polimiksin B tersedia dalam bentuk salep (5000-10000 unit per gram) dalam kombinasi dengan basitrasin atau neomisin. Cara pemakaiannya dioleskan sekali sampai tiga kali sehari.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="FI">AMINOGLIKOSIDA TOPIKAL, TERMASUK NEOMISIN, GENTAMISIN, DAN PAROMOMISIN</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Aminoglikosida adalah kelompok antibiotika yang penting yang digunakan baik secara topikal atau pun sistemik untuk pengobatan infeksi yang disebabkan bakteri gram negatif.<span> </span>Aminoglikosida memberi efek membunuh bakteri melalui pengikatan subunit ribosomal 30S dan mengganggu sintesis protein. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Neomisin sulfat, aminoglikosida yang sering digunakan secara topical adalah hasil fermentasi <em>Strep. faridae</em>. Neomisin yang tersedia di pasaran adalah campuran neomisin B dan C , sedangkan framisetin yang digunakan di Eropa dan Canada adalah neomisin B murni.<span> </span>Neomisin sulfat memiliki efek mematikan bakteri gram negatif dan sering digunakan sebagai profilaksis infeksi yang disebabkan oleh abrasi superfisial, terluka, atau luka bakar. Tersedia dalam bentuk salep (3,5 mg/g) dan dikemas dalam bentuk kombinasi dengan antibiotika lain seperti basitrasin, polimiksin dan gramisidin.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Bahan lain yang sering dikombinasikan dengan neomisin adalah lidokain, pramoksin, atau hidrokortison.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Neomisin tidak direkomendasikan oleh banyak ahli kulit karena dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi.<span> </span>Dermatitis kontak karena pemakaian neomisin<span> </span>memiliki angka prevalensi yang tinggi, dan pada 6 –8 % penderita yang dilakukan <em>patch test</em> memberi hasil positif. Neomisin sulfat (20%) dalam petrolatum digunakan untuk menilai alergi kontak.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Gentamisin sulfat diturunkan dari hasil fermentasi <em>Micromonospora purpurea</em>. Tersedia dalam bentuk topikal krim atau salep 0,1%. Antibiotika ini banyak digunakan oleh ahli bedah kulit ketika melakukan operasi telinga , terutama pada penderita diabet atau keadaan <em>immunocompromised</em> lain, sebagai profilaksis terhadap otitis eksterna maligna akibat <em>P. aeruginosa.</em></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Paromomisin berhubungan erat dengan neomisin dan memiliki efek antiparasit. Sediaan topikal terdiri dari paramomisin sulfat dan metilbenzetonium klorida yang digunakan di Israel untuk mengobati <em>leismaniasis kutaneus</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">ANTIBIOTIKA LAIN</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Gramisidin</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Gramisidin adalah antibiotika topikal yang merupakan derivat <em>B. brevis</em>. Gramisidin adalah peptida linier yang membentuk <em>stationary ion channels </em>pada bakteri yang sesuai. Aktifitas antibiotika gramisidin terbatas pada bakteri gram positif.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Kloramfenikol</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Kloramfenikol di Amerika Serikat penggunaannya terbatas untuk pengobatan infeksi kulit yang ringan. Kloramfenikol pertama kali diisolasi dari <em>Strep. venezuela</em>, tetapi saat ini disintesis karena struktur kimianya sederhana. Mekanisme kerjanya hampir mirip dengan eritromisin dan klindamisin, yaitu menghambat ribosom 50S<span> </span>memblokade translokasi peptidil tRNA dari akseptor ke penerima.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Kloramfenikol tersedia dalam krim 1 %. Obat ini jarang digunakan karena dapat menyebabkan anemia aplastik yang fatal atau supresi sum-sum tulang.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Sulfonamida</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Struktur sulfonamida mirip dengan para-aminobenzoic acid (PABA) dan bersaing dengan zat tersebut selama sintesis asam folat. Sulfonamida jarang digunakan secara topikal, kecuali krim silver sulfadiazine (Silvaden) dan krim mafenid asetat. Silver sulfadiazine melepas silver secara perlahan-lahan. Silver memberi efek pada membran dan dinding sel bakteri. Mekanisme kerja mefenid tidak sama dengan sulfonamid karena tidak ada reaksi antagonis terhadap PABA. Mafenid asetat yang digunakan untuk lesi yang luas pada kulit dapat menyebabkan asidosis metabolik dan dapat menyebabkan rasa nyeri. Golongan ini adalah antibiotika <em>broad-spectrum </em>dan digunakan untuk luka bakar. Superinfeksi oleh <em>Candida</em> dapat terjadi karena pemakaian krim mafenid.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Clioquinol / <em>Iodochlorhydroxiquin</em></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Clioquinol adalah antibakteri dan antijamur yang di-indikasi-kan untuk pengobatan kelainan kulit yang disertai peradangan dan tinea pedis serta infeksi bakteri minor. Clioquinol adalah sintetik <em>hydroxyquinoline</em> yang mekanisme kerjanya belum diketahui. Kerugian clioquinol adalah mengotori pakaian, kulit, rambut dan kuku serta potensial menyebabkan iritasi. Clioquinol mempengaruhi penilaian fungsi tiroid (efek ini dapat berlangsung hingga 3 bulan setelah pemakaian ). Tetapi clioquinol tidak mempengaruhi hasil tes untuk pemeriksaan T3 dan T4.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Nitrofurazone</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Nitrofurazone (Furacin) adalah derivat nitrofuran yang digunakan untuk pengobatan luka bakar. Mekanisme kerjanya adalah inhibisi enzim bakteri pada degradasi glukosa dan piruvat secara aerob maupun anaerob. Nitrofurazone<span> </span>tersedia dalam krim , solusio atau kompres <em>soluble</em> 0,2%, dan aktifitas spektrum<span> </span>obat ini meliputi <em>staphylococcus, streptococcus,</em> <em>E. coli, Clostridium perfringens, Aerobacter enterogenes</em>, dan <em>Proteus sp</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><strong><span lang="SV">Asam Fusidat</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Asam fusidat adalah sediaan topikal yang tidak tersedia di Amerika Serikat, tetapi terdapat di Kanada dan Eropa sebagai antibakteri dalam bentuk krim, salep, <em>impregnated gauze</em>. Asam fusidat adalah antibiotika steroidal dengan mekanisme kerja mempengaruhi fungsi faktor elongasi (EF-G) dengan menstabilkan EF-G-GDP-ribosome complex, mencegah translokasi ribosom dan daur ulang bentuk EF-G.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:normal;"><span lang="SV">Sumber : <em>Fitzpatrick 2003</em></span></p>
Posted in Kesehatan Kulit, makalah ilmiah Tagged: kesehatan, tinjauan pustaka <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=111&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/03/antibiotika-topikal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ULKUS PLANTAR PADA PENDERITA KUSTA</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/02/ulkus-plantar-pada-penderita-kusta/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/02/ulkus-plantar-pada-penderita-kusta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 11:23:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tinjauan pustaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Hasting hal 433 -6

Distribusi
Ulkus plantar atau ulkus tropik adalah masalah yang paling sering dijumpai pada kaki seorang penderita kusta. Bagian kaki yang paling sering dijumpai ulkus adalah telapak kaki khususnya telapak kaki bagian depan (ball of the foot), di mana sekitar 70-90% ulkus berada di sini.  Pada lokasi ini, ulkus lebih sering [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=108&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Sumber : Hasting hal 433 -6</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Distribusi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Ulkus plantar atau ulkus tropik adalah masalah yang paling sering dijumpai pada kaki seorang penderita kusta. Bagian kaki yang paling sering dijumpai ulkus adalah telapak kaki khususnya telapak kaki bagian depan (<em>ball of the foot</em>), di mana sekitar 70-90% ulkus berada di sini. <span> </span>Pada lokasi ini, ulkus lebih sering ditemukan pada bagian medial dibanding dengan bagian lateral, sekitar 30-50% berada di sekitar ibu jari, di bawah falang proksimal ibu jari dan kepala metatarsal .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span><strong><span lang="FI">Patogenesis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Tiga penyebab terjadinya ulkus :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">berjalan      pada kaki yang insensitif serta paralisis otot-otot kecil</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">infeksi      yang timbul akibat trauma pada kaki yang insensitif</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">infeksi      yang timbul pada <em>deep fissure</em> telapak kaki yang insensitif dan kering atau terdapatnya <em>corn</em> atau kalus pada telapak kaki</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Penyebab pertama menimbulkan sekitar 85% ulkus plantar sedangkan penyebab ke 2 &amp; 3 menimbulkan ulkus pada sekitar 15% ulkus plantar. Ini yang disebut ulkus plantar sejati, yang bila sekali terjadi maka proses penyembuhan tidak mudah, cenderung untuk kambuh dan potensial merusak kaki secara progresif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span lang="FI">Tiga tahap terjadinya ulkus plantar sejati :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">tahap ulkus mengancam dimana hanya terjadi peradangan pada tempat yang menerima tekanan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">tahap ulkus tersembunyi dimana terjadi proses kerusakan jaringan, timbul bula nekrosis, tetapi kerusakan ini tertutupi oleh kulit yang masih intak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">tahap ulkus yang nyata, dimana kerusakan terekspos dunia luar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Tahap ulkus mengancam ditandai dengan timbulnya edema<span> </span>yang dapat dikenali dengan menigkatnya gap antara 2 jari, telapak kaki yang lunak dan hangat pada daerah yang rusak (contohnya dasar dari falang proksimal ); dan kemungkinan timbul bengkak pada dorsum yang berhubungan. Tahap ulkus tersembunyi dapat dikenali dengan timbulnya bula nekrosis, dan pada tahap ketiga radang menjadi jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Pada 2 jenis ulkus plantar yang lain, kulit terbuka akibat luka atau fisura kemudian timbul infeksi pada jaringan yang lebih dalam dan terdapat fokus peradangan supuratif yang berkembang menjadi ulkus. Tanpa melihat asalnya,<span> </span>selanjutnya ulkus memiliki sifat yang sama yaitu sulit untuk sembuh, mudah kambuh dan merusak jaringan lunak dan skeleton kaki secara<span> </span>progresif. Ulkus<span> </span>plantar<span> </span>akibat trauma dan fisura dapat dicegah dengan melindungi telapak kaki dari luka dan perawatan diri yang teratur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span><strong><span lang="FI">Tipe ulkus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Ulkus plantar digolongkan berdasarkan penanganannya, yaitu ulkus akut, ulkus kronik, ulkus <em>complicated </em>dan ulkus rekuren. Ulkus akut adalah ulkus yang menunjukkan adanya infeksi akut dan peradangan akut. Daerah terkena menjadi bengkak dan hiperemi, dan dasarnya kotor. Mungkin dijumpai limfadenitis inguinal dan tanda serta gejala infeksi akut seperti demam, leukositosis dsb. Ulkus kronik lebih tenang, sedikit <em>discharge</em>, terdapat hiperkeratotik, dengan jaringan fibrosa yang padat dan dasar ulkus<span> </span>berwarna pucat tertutup jaringan granulasi yang tidak sehat. Ulkus tampak statis tanpa tanda-tanda menyembuh. Ulkus <em>complicated</em>, dapat akut atau kronik memperlihatkan gambaran yang kompleks seperti osteomielitis, artritis septik, dan tenosinovitis septik, sebagai akibat penyebaran infeksi ke tulang, sendi dan tendon. Terkadang ulkus memberi gambaran seperti bunga kol, yang biasanya –tapi tidak selalu- nonmalignan. Tetapi tidak mungkin menentukan ganas tidaknya lesi ini hanya berdasarkan gambaran klinis. Infeksi yang mengancam jiwa seperti gangren, tetanus dan septikemia adalah komplikasi lain yang dapat terjadi. Lebih lanjut,<span> </span>gambaran komplikasi adalah adanya<span> </span>deformitas yang dapat mengakibatkan ulkus, atau deformitas terjadi akibat ulkus terdahulu, yang saat ini menimbulkan terjadinya ulkus rekuren. Kebanyakan ulkus plantar menjadi rekuren karena tidak dilakukan perawatan. Tetapi ada pula yang meskipun telah dirawat dengan baik ulkus tetap timbul dengan mudah walau hanya berjalan jarak dekat, dan ini memerlukan perawatan khusus, yang ditujukan untuk mencegah ulkus rekuren.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI"> Penatalaksanaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Tahap ulkus mengancam biasanya terlewati, dan bila diketahui maka kaki harus diistirahatkan secara absolut (tidak boleh menahan beban, berjalan atau duduk) dan dilakukan elevasi selama 48-72 jam, untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut. Penderita diinstruksikan untuk melakukan perawatan diri dan memakai alas kaki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Bila ditemukan bula nekrosis, pemecahan bula harus dihindari, dan bila terpaksa dilakukan dapat dilakukan dengan cara ditusuk dan kulit yang terluka ditutup dengan kasa steril. </span><span lang="SV">Penderita juga dinstruksikan untuk melakukan perawatan diri dan menggunakan alas kaki pelindung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span></span><span lang="FI">Ketika sudah terjadi ulkus yang terbuka, harus ditentukan apakah ulkus tersebut akut, kronik, dengan komplikasi atau rekuren. Pada ulkus akut diusahakan secepatnya mengontrol infeksi dan meminimalkan kerusakan jaringan. Tirah baring, elevasi tungkai, irigasi serta pemakaian antibiotika bila diperlukan. Tindakan pada kasus ini terbatas<span> </span>hanya untuk<span> </span>mengambil jaringan yang benar-benar mati dan prosedur drainase, yang harus dilakukan secara hati-hati. Setelah 10 hari, keadaan dievaluasi kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Ulkus kronik tanpa komplikasi sulit untuk sembuh karena penderita terus berjalan dan terjadi proses pemecahan jaringan granulasi. Tujuan pengobatan pada tahap ini adalah melindungi ulkus selama berjalan dan membiarkan ulkus menyembuh tanpa interfensi. Ini dapat dicapai dengan menutup luka dengan pembalut plester dan penderita diperbolehkan berjalan setelah jaringan mengeras. Biasanya dalam waktu 6 minggu ulkus mulai membaik. Terkadang diperlukan perawatan 6 minggu lagi untuk mendapatkan hasil kesembuhan yang nyata. Setelah mengangkat pembalut penderita harus melakukan perawatan diri dan memakai alas kaki pelindung. </span>Untuk ulkus superfisial, pembalut plester dapat diganti dengan plester yang mengandung zinc oksida. Plester diganti bila diperlukan misalnya bila terdapat eksudat atau terlepas. Plester dipakai sampai 2 minggu setelah luka menyembuh. <span lang="FI">Selama itu, jalan harus dibatasi dan penderita harus memakai alas kaki pelindung bila berjalan. Bial ulkus luas dan bersih penyembuhan dapat dipercepat dengan melakukan tandur kulit dan dibalut selama 4 minggu untuk melindungi tandur. Terkadang ulkus sulit menyembuh karena aliran darah ke telapak kaki berkurang dari yang seharusnya. Pada kasus seperti ini dapat dilakukan dekompresi neurovaskular tibialis posterior.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Seperti telah disebutkan terdahulu, komplikasi yang sering terajadi adalah infeksi pada jaringan yang lebih dalam. Pada kasus seperti ini, bila terdapat fase akut diterapi seperti ulkus akut. Bila sudah teratasi, dilakukan evaluasi untuk mengidentifikasi komplikasi yang timbul. <em>Debridement</em> dilakukan untuk infeksi yang lebih dalam. Beberapa hari setelah prosedur ini dilakukan, ulkus dirawat seperti ulkus tanpa komplikasi. Pada kasus ulkus seperti bunga kol harus dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk menentukan ganas tidaknya. Dilakukan<span> </span>eksisi lokal, dan bila diperlukan dilakukan amputasi. Bila terdapat ulkus dan<span> </span>deformitas, ulkus disembuhkan dahulu, baru kemudian dilakukan koreksi deformitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span><strong><span lang="FI">Pencegahan kekambuhan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Tujuan penatalaksanaan ulkus plantar adalah menyembuhkan ulkus dan mencegah ulkus kambuh. Ulkus sering kambuh karena :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:85.5pt;text-align:justify;text-indent:-49.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">terdapat faktor dasar (kehilangan sensibilitas, paralisis otot intrinsik dan terus dipakai berjalan)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:85.5pt;text-align:justify;text-indent:-49.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">skar yang terbentuk pada ulkus sebelumnya tidak dapat menahan tekanan selama berjalan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:85.5pt;text-align:justify;text-indent:-49.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->skar mendapat tekanan yang lebih besar karena adanya deformitas</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:85.5pt;text-align:justify;text-indent:-49.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><em>flare up</em> infeksi yang terletak di dalam</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pencegahan ulkus menjadi rekuren dengan cara :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">mengurangi tekanan selama berjalan dan menggunakan alas kaki pelindung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">eradikasi infeksi yang terletak pada struktur yang lebih dalam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">meningkatkan kualitas skar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">mengurangi beban pada skar dengna cara modifikasi alas kaki dan melakukan prosedur tindakan pembedahan.</span></p>
Posted in Kesehatan Kulit, makalah ilmiah Tagged: kesehatan, tinjauan pustaka <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=108&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/02/ulkus-plantar-pada-penderita-kusta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Staphylococcal Scalded Skin Syndrome</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/02/staphylococcal-scalded-skin-syndrome/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/02/staphylococcal-scalded-skin-syndrome/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 05:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[case report]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[laporan kasus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Maria Ulfa, M.Yulianto Listiawan 
Department of Dermato-Venereology
Medical Faculty of Airlangga University, Dr. Soetomo General Hospital
Surabaya
Abstract
Back ground : Staphylococccal scalded skin syndrome (SSSS) is a staphylococcal epidermolytic toxin-mediated disease characterized by erythema and widespread detachment of the superficial layers of the epidermis. Therapy should be directed toward eradication of staphylococci from the focus of infection, which [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=105&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoSubtitle" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-weight:normal;font-style:normal;text-decoration:none;">Maria Ulfa</span><span style="font-size:14pt;font-weight:normal;font-style:normal;">,</span><span style="font-size:14pt;font-weight:normal;font-style:normal;text-decoration:none;"> M.Yulianto Listiawan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="EN-GB">Department of Dermato-Venereology</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="EN-GB">Medical Faculty of Airlangga University, Dr. Soetomo General Hospital</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><em><span lang="EN-GB">Surabaya</span></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Abstract</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Back ground</span></strong><span lang="EN-GB"> :<span> </span>Staphylococccal scalded skin syndrome (SSSS) is<span> </span>a staphylococcal epidermolytic toxin-mediated disease characterized by erythema and widespread<span> </span>detachment of the superficial layers of the epidermis. Therapy should be directed toward eradication of staphylococci from the focus of infection, which generally requires intravenous penicillinase-resistant anti-staphylococcal antibiotics.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Case </span></strong><span lang="EN-GB">: a 15-day-old male neonate came with generalized “peeling of the skin”. 4 days before admission there were mild fever, malaise, appears irritable and got poor feeding. The following day the<span> </span>skin become red and easy to “peel off”, initially on his groin area than spread to entire body within 2 days.<span> </span>Nikolsky sign became positive over his entire body surface. We gave cloxacillin 3&#215;55 mg intravenous during 3 days, continued cloxacillin 3&#215;55 mg orally during 10 days and also supportive therapy. Staphylococcus aureus grew from the cultures of the infant’s nasopharinx. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Discussion</span></strong><span lang="EN-GB"> : in this case the diagnosis of SSSS made by clinical presentation and bacterial culture. The source of Staphylococcus aureus was nasopharinx, but it without clinically apparent infection.<span> </span>He responded well to therapy cloxacillin and was discharged after 14 days in good condition with normal skin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN-GB"><span> </span></span><strong><span lang="EN-GB">Key Words</span></strong><span lang="EN-GB"> : Staphylococcal scalded skin syndrome, neonate</span></p>
Posted in Kesehatan Kulit, makalah ilmiah Tagged: case report, kesehatan, laporan kasus, makalah ilmiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=105&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/02/staphylococcal-scalded-skin-syndrome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit Kusta pada Anak di Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya Periode Januari 2002- Desember 2005</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/01/penyakit-kusta-pada-anak-di-unit-rawat-jalan-kesehatan-kulit-dan-kelamin-rsu-dr-soetomo-surabaya-periode-januari-2002-desember-2005/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/01/penyakit-kusta-pada-anak-di-unit-rawat-jalan-kesehatan-kulit-dan-kelamin-rsu-dr-soetomo-surabaya-periode-januari-2002-desember-2005/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 05:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[
Maria Ulfa, Indropo Agusni
Departemen/ SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo
Surabaya
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian retrospektif pada kasus kusta anak yang datang ke Divisi Morbus Hansen Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya selama 4 tahun (Januari 2002 sampai Desember 2005). Data diambil dari status penderita yang berumur ≤ 14 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=102&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1 style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"><em></em></span></h1>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Maria Ulfa, Indropo Agusni</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="SV">Departemen/ SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Surabaya</span></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="FI"><strong>ABSTRAK</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Telah dilakukan penelitian retrospektif pada kasus kusta anak yang datang ke Divisi Morbus Hansen Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya selama 4 tahun (Januari 2002 sampai Desember 2005). Data diambil dari status penderita yang berumur ≤ 14 tahun. Selama jangka waktu tersebut, terdapat 6,2% dari total penderita kusta yang datang adalah anak-anak dengan perbandingan laki-laki : perempuan adalah 1,6 : 1. <span> </span>Umur terbanyak adalah 10-14 tahun sedangkan umur termuda adalah 4 tahun. </span><span lang="SV">Terdapat 56,1% memiliki riwayat kontak dengan sumber terbanyak berasal dari orang serumah. Sebagian besar yaitu 78,8% adalah penderita tipe Multi Basiler dan terdapat 15,2% penderita datang dalam keadaan menular yang ditunjukkan dengan indeks morfologi positif. Telah dibicarakan pula tentang lamanya sakit, kecacatan dan domisili penderita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kata kunci : kusta, anak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="FI">A retrospective study on the leprosy in children<span> </span>who attended </span><span>the skin out-patient clinic of Dr. Soetomo General Hospital Surabaya during a four-years period (from Januari<span> </span>2002 to December 2005) is reported. During that periode there were <span> </span>6,2% of leprosy patient who visited the skin out-patient clinic are children under 14 years old with the male : female ratio is 1,6:1.<span> </span>. The youngest patient is 4 years old,<span> </span>and the age incidence rates show peaking at 10-14 years old. The contact was positive among 56,1% patient. Majority had the Multibacillary type (78,8%) and 15,2% patient had morphology index positive. This study also find out the duration of illness, disability and residence of the patient.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><em>Key words : leprosy, children</em></span></p>
Posted in Kesehatan Kulit, makalah ilmiah Tagged: kesehatan, makalah ilmiah, penelitian, research <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=102&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/01/penyakit-kusta-pada-anak-di-unit-rawat-jalan-kesehatan-kulit-dan-kelamin-rsu-dr-soetomo-surabaya-periode-januari-2002-desember-2005/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penting buat yang belum tau : Panduan membersihkan wajah yang benar..</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/11/28/penting-buat-yang-belum-tau-panduan-membersihkan-wajah-yang-benar/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/11/28/penting-buat-yang-belum-tau-panduan-membersihkan-wajah-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 03:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tips/ trick]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang salah kaprah tentang persepsi membersihkan wajah yang benar. Karena pingin wajah bersih, ada yang dalam sehari membersihkan wajah sampai lebih dari 4x dengan mamakai sabun yang tidak tepat pula. Belum lagi untuk ‘memaksimalkan’ pembersihan, maka metodenya pun dengan menggosok yang kuat. Hasilnya bisa jadi tidak seperti yang diharapkan. Terkadang malah kulit jadi tampak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=95&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Banyak orang salah kaprah tentang persepsi membersihkan wajah yang benar. Karena pingin wajah bersih, ada yang dalam sehari membersihkan wajah sampai lebih dari 4x dengan mamakai sabun yang tidak tepat pula. Belum lagi untuk ‘memaksimalkan’ pembersihan, maka metodenya pun dengan menggosok yang kuat.<span> </span>Hasilnya bisa jadi tidak seperti yang diharapkan. Terkadang malah kulit jadi tampak merah, iritasi disertai rasa perih dan lain sebagainya. Sebenarnya bagaimana ya panduan membersihkan kulit yang benar? Di bawah ini beberapa tips untuk membersihkan wajah secara umum untuk perawatan sehari-hari :</p>
<ul>
<li>Kulit wajah harus dibersihkan pada pagi dan sore hari/sebelum tidur untuk mengangkat sebum, <em>makeup</em>, debu, bakteri dan kulit mati</li>
</ul>
<ul>
<li>Pembersih yang digunakan adalah pembersih ringan yang sesuai dengan pH fisiologis kulit ( pH sekitar 5,5)dan tidak mengandung basa kuat</li>
</ul>
<ul>
<li>Setelah dilakukan dengan pembersihan yang lembut (tidak menggosok kuat-kuat) kulit wajah dibilas sampai bersih</li>
</ul>
<ul>
<li>Air yang boleh digunakan adalah air dingin atau suam-suam kuku. Air yang terlalu hangat/ panas justru akan menstimulasi sekresi minyak pada kulit berminyak dan juga justru akan menambah kering serta iritasi pada kulit kering</li>
</ul>
<ul>
<li><span lang="SV">Mengeringkan wajah dengan tekanan-tekanan yang lembut, bukan menggosok kasar dengan handuk..</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Demikian cara membersihkan wajah yang benar, karena perawatan kulit wajah yang benar berawal dari persiapan yang benar.. selamat mencoba dan semoga kulit bersih dan sehat yang kita harapakan dapat terwujud..</span></p>
Posted in Kesehatan Kulit Tagged: artikel, kecantikan, kesehatan, tips/ trick <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=95&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/11/28/penting-buat-yang-belum-tau-panduan-membersihkan-wajah-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adakah  yang harus disiapkan sebelum prosedur pengelupasan kimiawi/ chemical peeling ?</title>
		<link>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/11/07/adakah-yang-harus-disiapkan-sebelum-prosedur-pengelupasan-kimiawi-chemical-peeling/</link>
		<comments>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/11/07/adakah-yang-harus-disiapkan-sebelum-prosedur-pengelupasan-kimiawi-chemical-peeling/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 03:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariasonhaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mariasonhaji.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[
Pengelupasan kimiasi atau chemical peeling adalah suatu prosedur khusus yang meliputi aplikasi ‘obat’ peeling yang bertujuan ‘mengelupas’ lapisan kulit secara terkendali sehingga diharapkan pada proses penyembuhannya menghasilkan regenerasi kulit yang baru untuk memperbaiki penampilan.
 Sebelum prosedur ini dilakukan, pertama-tama dokter akan menilai masalah kosmetik yang dihadapi pasien dan juga menilai apakah pada penderita memang bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=92&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Pengelupasan kimiasi atau <em>chemical peeling</em> adalah suatu prosedur khusus yang meliputi aplikasi ‘obat’ <em>peeling</em> yang bertujuan ‘mengelupas’ lapisan<span> </span>kulit secara terkendali sehingga diharapkan pada proses penyembuhannya menghasilkan regenerasi kulit yang baru untuk memperbaiki penampilan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Sebelum prosedur ini dilakukan, pertama-tama dokter akan menilai masalah kosmetik yang dihadapi pasien dan juga menilai apakah pada penderita memang bisa dilakukan <em>peeling</em>. Bila ada <span> </span>infeksi pada kulit (yang akan di-<em>peeling</em>) atau penyakit kulit seperti eksim, maka pengelupasan kimiawi belum dapat dilaksanakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Setelah diputuskan bahwa pada penderita dapat dilaksanakan prosedur ini maka dokter akan menentukan ’obat’ <em>peeling</em> yang dipakai sesuai problem kosmetik yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Yang perlu diperhatikan, 3-4 minggu sebelum dilakukan pengelupasan kimiawi ini, kulit penderita perlu ‘disiapkan’ dengan cara pemakaian krim-krim tertentu (<em>priming cream</em>). Tujuannya agar prosedur ini memberi hasil yang baik dan juga untuk meminimalkan komplikasi yang mungkin timbul.</p>
Posted in Kesehatan Kulit Tagged: artikel, kecantikan, Kesehatan Kulit <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mariasonhaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mariasonhaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mariasonhaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mariasonhaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mariasonhaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mariasonhaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mariasonhaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mariasonhaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mariasonhaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mariasonhaji.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mariasonhaji.wordpress.com&blog=4621597&post=92&subd=mariasonhaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mariasonhaji.wordpress.com/2008/11/07/adakah-yang-harus-disiapkan-sebelum-prosedur-pengelupasan-kimiawi-chemical-peeling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/78e82462db2fca8f29e5aea4ded1a8dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariasonhaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>