Posts filed under 'makalah ilmiah'
Toksik Epidermal Nekrolisis pada Penderita dengan Psoriasis Vulgaris
Toxic Epidermal Necrolysis in Psoriasis Vulgaris Patient
Maria Ulfa, M. Yulianto Listiawan
Departement of Dermato-Veneorology Faculty of Medicine University of Airlangga
dr. Soetomo Hospital Surabaya
Abstract
Background : reporting a case of toxic epidermal necrolysis in patient with psoriasis vulgaris
Case : a man 52 years old have been suffered from psoriasis vulgaris for 10 years come to our hospital with chief complaint blister on all almost of his body accompanied with high fever. One week before, he complaint about painfull joint then he consumed na diclofenac. Conjunctivitis, erosion on the lips, Nikolsky sign positive and elevation of creatinin have been found. On the 10th day the TEN lesion was recovered but eritroderma appeared slowly. Histopatology examination showed hyperkeratosis, parakeratosis and neutrofils in epidermis and in dermis there were edema of papilla dermis and perivascular infiltration. The conclusion was psoriasis eritroderma . He got dexametason injection 3x 5 mg with rapid tapering for 10 days. When the eritroderma arise, he only got supportive therapy. He discharged at the forty-sixth day with good condition.
Discussion : systemic steroid is contraindicated in psoriasis because it could extent the lesion that exist before and also precipitate the eritroderma. But in this case the drug was still given with consideration that TEN is a life threatening condition. Eritroderma is used to treat with methotrexate but was obstacled by elevation of creatinin serum which caused of drug eruption.
Key words : psoriasis vulgaris, toxic epidermal necrolysis, dexametason
Add comment Desember 5, 2008
ANTIBIOTIKA TOPIKAL
Antibiotika topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus di bidang kulit. Antibiotika topikal adalah obat yang paling sering diresepkan oleh spesialis kulit untuk menangani akne vulgaris ringan sampai sedang serta merupakan terapi adjunctive dengan obat oral. Untuk infeksi superfisial dengan area yang terbatas, seperti impetigo, penggunaan bahan topikal dapat mengurangi kebutuhan akan obat oral, problem kepatuhan, efek samping pada saluran pencernaan, dan potensi terjadinya interaksi obat. Selanjutnya, antibiotika topikal seringkali diresepkan sebagai bahan profilaksis setelah tindakan bedah minor atau tindakan kosmetik (dermabrasi, laser resurfacing) untuk mengurangi resiko infeksi setelah operasi dan mempercepat penyembuhan luka. Akhir-akhir ini kegunaan antibiotika topikal untuk profilaksis setelah tindakan minor dipertanyakan dan akan didiskusikan lebih lanjut di bawah ini.
BAHAN YANG DINGUNAKAN PADA PENGOBATAN TOPIKAL UNTUK AKNE
Efikasi antibiotika topikal pada pengobatan akne vulgaris dan rosasea berhubungan langsung dengan efek antibiotika, dan diduga beberapa antibiotika topikal memiliki efek anti-inflamasi dengan menekan neutrophil chemotactic factor atau melalui mekanisme lain. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih antibiotika topikal untuk akne vulgaris karena meningkatnya resistensi terhadap antibiotika yang sering digunakan. Ini menyebabkan para ahli mencari kemungkinan terapi kombinasi untuk akne vulgaris yang dapat mengurangi terjadinya resistensi.
Eritromisin
Eritromisin termasuk antibiotika golongan makrolid dan efektif baik untuk kuman gram positif maupun gram negatif. Antibiotika ini dihasilkan oleh Streptomyces erythreus dan digunakan untuk pengobatan akne. Eritromisin berikatan dengan ribosom 50S bakteri dan menghalangi translokasi molekul peptidil-tRNA dari akseptor ke pihak donor, bersamaan dengan pembentukan rantai polipepetida dan menghambat sintesis protein. Eritromisin juga memiliki efek anti-inflamasi yang membuatnya memiliki kegunaan khusus dalam pengobatan akne.
Eritromisin tersedia dalam sediaan solusio, gel, pledgets dan salep 1,5 %- 2% sebagai bahan tunggal. Juga tersedia dalam sediaan kombinasi dengan benzoil peroksida, yang dapat menghambat resistensi antibiotika terhadap eritromisin. Kombinasi zinc asetat 1,2% dengan eritromisin 4% lebih efektif daripada dengan Clindamisin.
Clindamisin
Clindamisin adalah antibiotika linkosamid semisintetik yang diturunkan dari linkomisin. Mekanisme kerja antibiotika ini serupa dengan eritromisin, dengan mengikat ribosom 50S dan menekan sintesis protein bakteri. Clindamisin digunakan secara topikal dalam sediaan gel, solusio, dan suspensi (lotio) 1% serta terutama untuk pengobatan akne. Juga tersedia dalam kombinasi dengan benzoil peroksida yang dapat menghambat resistensi antibiotika terhadap clindamisin. Efek samping berupa kolitis pseudomembran jarang dilaporkan pada pemakaian clindamisin secara topikal.
Metronidazol
Metronidazol, suatu topikal nitroimidazol, saat ini tersedia dalam bentuk gel, lotio, dan krim 0,75%, serta sebagai krim 1% untuk pengobatan topikal pada rosasea. Pada konsentrasi ringan, obat dipakai 2 kali sehari, sedangkan pada konsentrasi yang lebih tinggi obat dipakai sekali sehari. Metronidazol oral memiliki aktifitas broad-spectrum untuk berbagai organisme protozoa dan organisme anaerob. Mekanisme kerja metronidazol topikal di kulit belum diketahui; diduga efek antirosasea berhubungan dengan kemampuan obat sebagai antibiotika, antioksidan dan anti-inflamasi.
Asam Azelaic
Asam Azelaic adalah suatu asam dikarboksilik yang ditemukan pada makanan (sereal whole-grain dan hasil hewan). Secara normal terdapat pada plasma manusia (20-80 ng/mL), dan pemakaian topikal tidak mempengaruhi angka ini secara bermakna. Mekanisme kerja obat ini adalah menormalisasi proses keratinisasi (menurunkan ketebalan stratum korneum, menurunkan jumlah dan ukuran granul keratohialin, dan menurunkan jumlah filagrin. Dilaporkan bahwa secara in vitro, terdapat aktifitas terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, yang mungkin berhubungan dengan inhibisi sintesis protein bakteri (tempat yang pasti sampai saat ini belum diketahui). Pada organisme aerobik terdapat inhibisi enzim oksidoreduktif. Pada bakteri anaerobik terdapat inhibisi pada enzim oksidoreduksi (seperti tyrosinase, mitochondrial enzymes of the respiratory chain, 5-alpha reductase, dan DNA polymerase). Pada bakteri anaerob, terdapat gangguan proses glikolisis. Asam Azelaic digunakan terutama untuk pengobatan akne vulgaris, dan ada yang menyarankan digunakan untuk hiperpigmentasi (misalnya melasma), meskipun FDA tidak menyetujui indikasi ini. Asam Azelaic tersedia dalam sediaan krim 20%.
BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK TERAPI TOPIKAL PADA INFEKSI BAKTERI SUPERFISIAL
Mupirosin
Mupirosin, yang dahulu dikenal sebagai asam pseudomonik A adalah antibiotika yang diturunkan dari Pseudomonas fluorescens. Obat ini secara reversibel mengikat sintetase isoleusil-tRNA dan menghambat sintesis protein bakteri. Aktifitas mupirosin terbatas terhadap bakteri gram positif, khususnya staphylococcus dan streptococcus. Aktifitas obat ini meningkatkan suasana asam. Mupirosin sensitif terhadap perubahan suhu, sehingga tidak boleh terpapar dengan suhu tinggi. Salep mupirosin 2% dioleskan 3 kali sehari dan terutama di-indiskasi-kan untuk pengobatan impetigo dengan lesi terbatas, yang disebabkan oleh S. aureus dan Streptococcus pyogenes. Tetapi, pada penderita immunocompromised terapi yang diberikan harus secara sistemik untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Pada tahun 1987 dilaporkan resistensi bakteri terhadap mupirosin yang pertama kali. Setelah itu terdapat beberapa laporan resistensi mupirosin karena pemakaian antibiotika topikal untuk methicillin-resistant S. aureus (MRSA). Penelitian terakhir di Tennessee Veterans’ Affairs Hospital menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang salep mupirosin untuk mengontrol MRSA, khususnya pada penderita ulkus dekubitus, meningkatkan resistensi yang bermakna. Lebih lanjut, peneliti Jepang menemukan bahwa mupirosin konsentrasi rendah dicapai setelah aplikasi intranasal dan dipostulasikan bahwa mungkin ini menjelaskan resistensi terhadap mupirosin pada strain S. aureus. Suatu studi percobaan menggunakan salep antibiotika kombinasi yang mengandung basitrasin, polimiksin B, dan gramisidin berhasil menghambat kolonisasi pada 80% (9 dari 11) penderita yang setelah di-follow-up selama 2 bulan tetap menunjukkan dekolonisasi. Semua kasus (6 dari 6) terhadap mupirosin-sensitive MRSA dieradikasi, sedangkan 3 dari 5 kasus terhadap mupirosin-sensitive MRSA dieliminasi. Formulasi baru yang menggunakan asam kalsium (kalsium membantu dalam stabilisasi bahan kimia) tersedia untuk penggunaan intranasal dalam bentuk salep 2% dan krim 2%.
BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENCEGAH INFEKSI SETELAH TINDAKAN BEDAH ATAU LUKA ATAU UNTUK PENGOBATAN DERMATITIS KRONIK
Antibiotika topikal banyak dipakai untuk mengurangi infeksi setelah tindakan bedah minor, pada dermatitis kronik seperti dermatitis stasis dan dermatitis atopi, atau setelah abrasi ringan pada kulit. Studi terakhir difokuskan pada insidens infeksi setelah biopsi kulit atau tindakan bedah yang diberi antibiotika topikal. Pada beberapa kasus, antibiotika topikal tampaknya menurunkan angka penyembuhan luka. Studi lain menunjukkan bahwa penggunaan pembawa (vehicle) memberi hasil yang sama seperti pemberian antibiotika pada penyembuhan luka tanpa resiko dermatitis kontak iritan atau alergi terhadap bahan antibiotika. Hasil studi yang besar yang membandingkan basitrasin dan petrolatum pada lebih dari 1200 tindakan bedah minor dan biopsi menunjukkan bahwa bahan aktif basitrasin tidak menurunkan angka infeksi secara bermakna, tetapi malah berhubungan dengan dermatitis kontak alergi.
Basitrasin
Basitrasin adalah antibiotika polipeptida topikal yang berasal dari isolasi strain Tracy-I Bacillus subtilis, yang dikultur dari penderita dengan fraktur compound yang terkontaminasi tanah. Basi ini diturunkan dari Bacillus, dan trasin berasal dari penderita yang mengalami fraktur compound (Tracy). Basitrasin adalah antibiotika polipeptida siklik dengan komponen multipel (A,B dan C). Basitrasin A adalah komponen utama dari produk komersial dan yang sering digunakan sebagai garam zinc. Basitrasin mengganggu sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat atau menghambat .defosforilasi suatu ikatan membran lipid pirofosfat, pada kokus gram positif seperti stafilokokus dan streptokokus. Kebanyakan organisme gram negatif dan jamur resisten terhadap obat ini. Sediaan tersedia dalam bentuk salep basitrasin dan sebagai basitrasin zinc, mengandung 400 sampai 500 unit per gram.
Basitrasin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri superfisial pada kulit seperti impetigo, furunkolosis, dan pioderma. Obat ini juga sering dikombinasikan dengan polimiksin B dan neomisin sebagai salep antibiotika tripel yang dipakai beberapa kali sehari untuk pengobatan dermatitis atopi, numularis, atau stasis yang disertai dengan infeksi sekunder. Sayangnya, aplikasi basitrasin topikal memiliki resiko untuk timbulnya sensitisasi kontak alergi dan meski jarang dapat menimbulkan syok anafilaktik.
Polimiksin B
Polimiksin B adalah antibiotika topikal yang diturunkan dari B.polymyxa, yang asalnya diisolasi dari contoh tanah di Jepang. Polimiksin B adalah campuran dari polimiksin B1 dan B2, keduanya merupakan polipeptida siklik. Fungsinya adalah sebagai detergen kationik yang berinteraksi secara kuat dengan fosfolipid membran sel bakteri, sehingga menghambat intergritas sel membran.
Polimiksin B aktif melawan organisme gram negatif secara luas termasuk P.aeruginosa, Enterobacter, dan Escherichia coli. Polimiksin B tersedia dalam bentuk salep (5000-10000 unit per gram) dalam kombinasi dengan basitrasin atau neomisin. Cara pemakaiannya dioleskan sekali sampai tiga kali sehari.
AMINOGLIKOSIDA TOPIKAL, TERMASUK NEOMISIN, GENTAMISIN, DAN PAROMOMISIN
Aminoglikosida adalah kelompok antibiotika yang penting yang digunakan baik secara topikal atau pun sistemik untuk pengobatan infeksi yang disebabkan bakteri gram negatif. Aminoglikosida memberi efek membunuh bakteri melalui pengikatan subunit ribosomal 30S dan mengganggu sintesis protein.
Neomisin sulfat, aminoglikosida yang sering digunakan secara topical adalah hasil fermentasi Strep. faridae. Neomisin yang tersedia di pasaran adalah campuran neomisin B dan C , sedangkan framisetin yang digunakan di Eropa dan Canada adalah neomisin B murni. Neomisin sulfat memiliki efek mematikan bakteri gram negatif dan sering digunakan sebagai profilaksis infeksi yang disebabkan oleh abrasi superfisial, terluka, atau luka bakar. Tersedia dalam bentuk salep (3,5 mg/g) dan dikemas dalam bentuk kombinasi dengan antibiotika lain seperti basitrasin, polimiksin dan gramisidin.
Bahan lain yang sering dikombinasikan dengan neomisin adalah lidokain, pramoksin, atau hidrokortison.
Neomisin tidak direkomendasikan oleh banyak ahli kulit karena dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak karena pemakaian neomisin memiliki angka prevalensi yang tinggi, dan pada 6 –8 % penderita yang dilakukan patch test memberi hasil positif. Neomisin sulfat (20%) dalam petrolatum digunakan untuk menilai alergi kontak.
Gentamisin sulfat diturunkan dari hasil fermentasi Micromonospora purpurea. Tersedia dalam bentuk topikal krim atau salep 0,1%. Antibiotika ini banyak digunakan oleh ahli bedah kulit ketika melakukan operasi telinga , terutama pada penderita diabet atau keadaan immunocompromised lain, sebagai profilaksis terhadap otitis eksterna maligna akibat P. aeruginosa.
Paromomisin berhubungan erat dengan neomisin dan memiliki efek antiparasit. Sediaan topikal terdiri dari paramomisin sulfat dan metilbenzetonium klorida yang digunakan di Israel untuk mengobati leismaniasis kutaneus.
ANTIBIOTIKA LAIN
Gramisidin
Gramisidin adalah antibiotika topikal yang merupakan derivat B. brevis. Gramisidin adalah peptida linier yang membentuk stationary ion channels pada bakteri yang sesuai. Aktifitas antibiotika gramisidin terbatas pada bakteri gram positif.
Kloramfenikol
Kloramfenikol di Amerika Serikat penggunaannya terbatas untuk pengobatan infeksi kulit yang ringan. Kloramfenikol pertama kali diisolasi dari Strep. venezuela, tetapi saat ini disintesis karena struktur kimianya sederhana. Mekanisme kerjanya hampir mirip dengan eritromisin dan klindamisin, yaitu menghambat ribosom 50S memblokade translokasi peptidil tRNA dari akseptor ke penerima.
Kloramfenikol tersedia dalam krim 1 %. Obat ini jarang digunakan karena dapat menyebabkan anemia aplastik yang fatal atau supresi sum-sum tulang.
Sulfonamida
Struktur sulfonamida mirip dengan para-aminobenzoic acid (PABA) dan bersaing dengan zat tersebut selama sintesis asam folat. Sulfonamida jarang digunakan secara topikal, kecuali krim silver sulfadiazine (Silvaden) dan krim mafenid asetat. Silver sulfadiazine melepas silver secara perlahan-lahan. Silver memberi efek pada membran dan dinding sel bakteri. Mekanisme kerja mefenid tidak sama dengan sulfonamid karena tidak ada reaksi antagonis terhadap PABA. Mafenid asetat yang digunakan untuk lesi yang luas pada kulit dapat menyebabkan asidosis metabolik dan dapat menyebabkan rasa nyeri. Golongan ini adalah antibiotika broad-spectrum dan digunakan untuk luka bakar. Superinfeksi oleh Candida dapat terjadi karena pemakaian krim mafenid.
Clioquinol / Iodochlorhydroxiquin
Clioquinol adalah antibakteri dan antijamur yang di-indikasi-kan untuk pengobatan kelainan kulit yang disertai peradangan dan tinea pedis serta infeksi bakteri minor. Clioquinol adalah sintetik hydroxyquinoline yang mekanisme kerjanya belum diketahui. Kerugian clioquinol adalah mengotori pakaian, kulit, rambut dan kuku serta potensial menyebabkan iritasi. Clioquinol mempengaruhi penilaian fungsi tiroid (efek ini dapat berlangsung hingga 3 bulan setelah pemakaian ). Tetapi clioquinol tidak mempengaruhi hasil tes untuk pemeriksaan T3 dan T4.
Nitrofurazone
Nitrofurazone (Furacin) adalah derivat nitrofuran yang digunakan untuk pengobatan luka bakar. Mekanisme kerjanya adalah inhibisi enzim bakteri pada degradasi glukosa dan piruvat secara aerob maupun anaerob. Nitrofurazone tersedia dalam krim , solusio atau kompres soluble 0,2%, dan aktifitas spektrum obat ini meliputi staphylococcus, streptococcus, E. coli, Clostridium perfringens, Aerobacter enterogenes, dan Proteus sp.
Asam Fusidat
Asam fusidat adalah sediaan topikal yang tidak tersedia di Amerika Serikat, tetapi terdapat di Kanada dan Eropa sebagai antibakteri dalam bentuk krim, salep, impregnated gauze. Asam fusidat adalah antibiotika steroidal dengan mekanisme kerja mempengaruhi fungsi faktor elongasi (EF-G) dengan menstabilkan EF-G-GDP-ribosome complex, mencegah translokasi ribosom dan daur ulang bentuk EF-G.
Sumber : Fitzpatrick 2003
4 comments Desember 3, 2008
ULKUS PLANTAR PADA PENDERITA KUSTA
Sumber : Hasting hal 433 -6
Distribusi
Ulkus plantar atau ulkus tropik adalah masalah yang paling sering dijumpai pada kaki seorang penderita kusta. Bagian kaki yang paling sering dijumpai ulkus adalah telapak kaki khususnya telapak kaki bagian depan (ball of the foot), di mana sekitar 70-90% ulkus berada di sini. Pada lokasi ini, ulkus lebih sering ditemukan pada bagian medial dibanding dengan bagian lateral, sekitar 30-50% berada di sekitar ibu jari, di bawah falang proksimal ibu jari dan kepala metatarsal .
Patogenesis
Tiga penyebab terjadinya ulkus :
- berjalan pada kaki yang insensitif serta paralisis otot-otot kecil
- infeksi yang timbul akibat trauma pada kaki yang insensitif
- infeksi yang timbul pada deep fissure telapak kaki yang insensitif dan kering atau terdapatnya corn atau kalus pada telapak kaki
Penyebab pertama menimbulkan sekitar 85% ulkus plantar sedangkan penyebab ke 2 & 3 menimbulkan ulkus pada sekitar 15% ulkus plantar. Ini yang disebut ulkus plantar sejati, yang bila sekali terjadi maka proses penyembuhan tidak mudah, cenderung untuk kambuh dan potensial merusak kaki secara progresif.
Tiga tahap terjadinya ulkus plantar sejati :
1. tahap ulkus mengancam dimana hanya terjadi peradangan pada tempat yang menerima tekanan
2. tahap ulkus tersembunyi dimana terjadi proses kerusakan jaringan, timbul bula nekrosis, tetapi kerusakan ini tertutupi oleh kulit yang masih intak.
3. tahap ulkus yang nyata, dimana kerusakan terekspos dunia luar.
Tahap ulkus mengancam ditandai dengan timbulnya edema yang dapat dikenali dengan menigkatnya gap antara 2 jari, telapak kaki yang lunak dan hangat pada daerah yang rusak (contohnya dasar dari falang proksimal ); dan kemungkinan timbul bengkak pada dorsum yang berhubungan. Tahap ulkus tersembunyi dapat dikenali dengan timbulnya bula nekrosis, dan pada tahap ketiga radang menjadi jelas.
Pada 2 jenis ulkus plantar yang lain, kulit terbuka akibat luka atau fisura kemudian timbul infeksi pada jaringan yang lebih dalam dan terdapat fokus peradangan supuratif yang berkembang menjadi ulkus. Tanpa melihat asalnya, selanjutnya ulkus memiliki sifat yang sama yaitu sulit untuk sembuh, mudah kambuh dan merusak jaringan lunak dan skeleton kaki secara progresif. Ulkus plantar akibat trauma dan fisura dapat dicegah dengan melindungi telapak kaki dari luka dan perawatan diri yang teratur.
Tipe ulkus
Ulkus plantar digolongkan berdasarkan penanganannya, yaitu ulkus akut, ulkus kronik, ulkus complicated dan ulkus rekuren. Ulkus akut adalah ulkus yang menunjukkan adanya infeksi akut dan peradangan akut. Daerah terkena menjadi bengkak dan hiperemi, dan dasarnya kotor. Mungkin dijumpai limfadenitis inguinal dan tanda serta gejala infeksi akut seperti demam, leukositosis dsb. Ulkus kronik lebih tenang, sedikit discharge, terdapat hiperkeratotik, dengan jaringan fibrosa yang padat dan dasar ulkus berwarna pucat tertutup jaringan granulasi yang tidak sehat. Ulkus tampak statis tanpa tanda-tanda menyembuh. Ulkus complicated, dapat akut atau kronik memperlihatkan gambaran yang kompleks seperti osteomielitis, artritis septik, dan tenosinovitis septik, sebagai akibat penyebaran infeksi ke tulang, sendi dan tendon. Terkadang ulkus memberi gambaran seperti bunga kol, yang biasanya –tapi tidak selalu- nonmalignan. Tetapi tidak mungkin menentukan ganas tidaknya lesi ini hanya berdasarkan gambaran klinis. Infeksi yang mengancam jiwa seperti gangren, tetanus dan septikemia adalah komplikasi lain yang dapat terjadi. Lebih lanjut, gambaran komplikasi adalah adanya deformitas yang dapat mengakibatkan ulkus, atau deformitas terjadi akibat ulkus terdahulu, yang saat ini menimbulkan terjadinya ulkus rekuren. Kebanyakan ulkus plantar menjadi rekuren karena tidak dilakukan perawatan. Tetapi ada pula yang meskipun telah dirawat dengan baik ulkus tetap timbul dengan mudah walau hanya berjalan jarak dekat, dan ini memerlukan perawatan khusus, yang ditujukan untuk mencegah ulkus rekuren.
Penatalaksanaan
Tahap ulkus mengancam biasanya terlewati, dan bila diketahui maka kaki harus diistirahatkan secara absolut (tidak boleh menahan beban, berjalan atau duduk) dan dilakukan elevasi selama 48-72 jam, untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut. Penderita diinstruksikan untuk melakukan perawatan diri dan memakai alas kaki.
Bila ditemukan bula nekrosis, pemecahan bula harus dihindari, dan bila terpaksa dilakukan dapat dilakukan dengan cara ditusuk dan kulit yang terluka ditutup dengan kasa steril. Penderita juga dinstruksikan untuk melakukan perawatan diri dan menggunakan alas kaki pelindung.
Ketika sudah terjadi ulkus yang terbuka, harus ditentukan apakah ulkus tersebut akut, kronik, dengan komplikasi atau rekuren. Pada ulkus akut diusahakan secepatnya mengontrol infeksi dan meminimalkan kerusakan jaringan. Tirah baring, elevasi tungkai, irigasi serta pemakaian antibiotika bila diperlukan. Tindakan pada kasus ini terbatas hanya untuk mengambil jaringan yang benar-benar mati dan prosedur drainase, yang harus dilakukan secara hati-hati. Setelah 10 hari, keadaan dievaluasi kembali.
Ulkus kronik tanpa komplikasi sulit untuk sembuh karena penderita terus berjalan dan terjadi proses pemecahan jaringan granulasi. Tujuan pengobatan pada tahap ini adalah melindungi ulkus selama berjalan dan membiarkan ulkus menyembuh tanpa interfensi. Ini dapat dicapai dengan menutup luka dengan pembalut plester dan penderita diperbolehkan berjalan setelah jaringan mengeras. Biasanya dalam waktu 6 minggu ulkus mulai membaik. Terkadang diperlukan perawatan 6 minggu lagi untuk mendapatkan hasil kesembuhan yang nyata. Setelah mengangkat pembalut penderita harus melakukan perawatan diri dan memakai alas kaki pelindung. Untuk ulkus superfisial, pembalut plester dapat diganti dengan plester yang mengandung zinc oksida. Plester diganti bila diperlukan misalnya bila terdapat eksudat atau terlepas. Plester dipakai sampai 2 minggu setelah luka menyembuh. Selama itu, jalan harus dibatasi dan penderita harus memakai alas kaki pelindung bila berjalan. Bial ulkus luas dan bersih penyembuhan dapat dipercepat dengan melakukan tandur kulit dan dibalut selama 4 minggu untuk melindungi tandur. Terkadang ulkus sulit menyembuh karena aliran darah ke telapak kaki berkurang dari yang seharusnya. Pada kasus seperti ini dapat dilakukan dekompresi neurovaskular tibialis posterior.
Seperti telah disebutkan terdahulu, komplikasi yang sering terajadi adalah infeksi pada jaringan yang lebih dalam. Pada kasus seperti ini, bila terdapat fase akut diterapi seperti ulkus akut. Bila sudah teratasi, dilakukan evaluasi untuk mengidentifikasi komplikasi yang timbul. Debridement dilakukan untuk infeksi yang lebih dalam. Beberapa hari setelah prosedur ini dilakukan, ulkus dirawat seperti ulkus tanpa komplikasi. Pada kasus ulkus seperti bunga kol harus dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk menentukan ganas tidaknya. Dilakukan eksisi lokal, dan bila diperlukan dilakukan amputasi. Bila terdapat ulkus dan deformitas, ulkus disembuhkan dahulu, baru kemudian dilakukan koreksi deformitas.
Pencegahan kekambuhan
Tujuan penatalaksanaan ulkus plantar adalah menyembuhkan ulkus dan mencegah ulkus kambuh. Ulkus sering kambuh karena :
1. terdapat faktor dasar (kehilangan sensibilitas, paralisis otot intrinsik dan terus dipakai berjalan)
2. skar yang terbentuk pada ulkus sebelumnya tidak dapat menahan tekanan selama berjalan
3. skar mendapat tekanan yang lebih besar karena adanya deformitas
4. flare up infeksi yang terletak di dalam
Pencegahan ulkus menjadi rekuren dengan cara :
1. mengurangi tekanan selama berjalan dan menggunakan alas kaki pelindung
2. eradikasi infeksi yang terletak pada struktur yang lebih dalam
3. meningkatkan kualitas skar
4. mengurangi beban pada skar dengna cara modifikasi alas kaki dan melakukan prosedur tindakan pembedahan.
Add comment Desember 2, 2008
Staphylococcal Scalded Skin Syndrome
Maria Ulfa, M.Yulianto Listiawan
Department of Dermato-Venereology
Medical Faculty of Airlangga University, Dr. Soetomo General Hospital
Surabaya
Abstract
Back ground : Staphylococccal scalded skin syndrome (SSSS) is a staphylococcal epidermolytic toxin-mediated disease characterized by erythema and widespread detachment of the superficial layers of the epidermis. Therapy should be directed toward eradication of staphylococci from the focus of infection, which generally requires intravenous penicillinase-resistant anti-staphylococcal antibiotics.
Case : a 15-day-old male neonate came with generalized “peeling of the skin”. 4 days before admission there were mild fever, malaise, appears irritable and got poor feeding. The following day the skin become red and easy to “peel off”, initially on his groin area than spread to entire body within 2 days. Nikolsky sign became positive over his entire body surface. We gave cloxacillin 3×55 mg intravenous during 3 days, continued cloxacillin 3×55 mg orally during 10 days and also supportive therapy. Staphylococcus aureus grew from the cultures of the infant’s nasopharinx.
Discussion : in this case the diagnosis of SSSS made by clinical presentation and bacterial culture. The source of Staphylococcus aureus was nasopharinx, but it without clinically apparent infection. He responded well to therapy cloxacillin and was discharged after 14 days in good condition with normal skin.
Key Words : Staphylococcal scalded skin syndrome, neonate
Add comment Desember 2, 2008
Penyakit Kusta pada Anak di Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya Periode Januari 2002- Desember 2005
Maria Ulfa, Indropo Agusni
Departemen/ SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo
Surabaya
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian retrospektif pada kasus kusta anak yang datang ke Divisi Morbus Hansen Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya selama 4 tahun (Januari 2002 sampai Desember 2005). Data diambil dari status penderita yang berumur ≤ 14 tahun. Selama jangka waktu tersebut, terdapat 6,2% dari total penderita kusta yang datang adalah anak-anak dengan perbandingan laki-laki : perempuan adalah 1,6 : 1. Umur terbanyak adalah 10-14 tahun sedangkan umur termuda adalah 4 tahun. Terdapat 56,1% memiliki riwayat kontak dengan sumber terbanyak berasal dari orang serumah. Sebagian besar yaitu 78,8% adalah penderita tipe Multi Basiler dan terdapat 15,2% penderita datang dalam keadaan menular yang ditunjukkan dengan indeks morfologi positif. Telah dibicarakan pula tentang lamanya sakit, kecacatan dan domisili penderita.
Kata kunci : kusta, anak
ABSTRACT
A retrospective study on the leprosy in children who attended the skin out-patient clinic of Dr. Soetomo General Hospital Surabaya during a four-years period (from Januari 2002 to December 2005) is reported. During that periode there were 6,2% of leprosy patient who visited the skin out-patient clinic are children under 14 years old with the male : female ratio is 1,6:1. . The youngest patient is 4 years old, and the age incidence rates show peaking at 10-14 years old. The contact was positive among 56,1% patient. Majority had the Multibacillary type (78,8%) and 15,2% patient had morphology index positive. This study also find out the duration of illness, disability and residence of the patient.
Key words : leprosy, children
Add comment Desember 1, 2008
Berbagai Indeks pada Pemeriksaan Mycobacterium leprae
Maria Ulfa, Indropo Agusni
Bagian /SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo
Surabaya
ABSTRAK
M. leprae merupakan bakteri penyebab penyakit kusta. Pada pemeriksaan mikroskopis dapat dilihat kepadatan, jumlah, bentuk serta viabilitas dari M leprae, yang kemudian ditunjukkan dengan berbagai indeks. Indeks dapat berasal dari hapusan sayatan kulit yaitu indeks bakteri, indeks morfologi dan indeks SFG atau berasal dari hasil biopsi yaitu fraksi granuloma, indeks bakteri dari granuloma dan indeks histopatologi.
Kata kunci : M. leprae, indeks
ABSTRACT
Leprosy is a disease caused by M leprae. Microscopic examination give feature of density, amount, morphology and viability of M. leprae that showed in several index. It comes from slit smears i.e. bacterial index, morphological index and SFG index or from biopsy i.e. granuloma fraction, bacterial index of the granuloma and histopathological index.
Key words : M.leprae, index
Makalah lengkap terdapat di Majalah Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNAIR/ RSU Dr. Soetomo Surabaya, vol 18, no 3 (2006)
Add comment Oktober 31, 2008
Eritroderma
Maria Ulfa, Sunarko Martodihardjo
Bag/ SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FK UNAIR / RSU Dr. Soetomo Surabaya
ABSTRAK
Eritroderma adalah kelainan keradangan kulit yang mengenai hampir seluruh tubuh yang penyebabnya dapat berupa penyakit kulit yang telah ada sebelumnya, penyakit sistemik serta kelainan idiopatik.. Penderita eritroderma sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk dilakukan evaluasi dan terapi. Eritroderma yang disebabkan oleh reaksi obat memiliki prognosis yang baik, sedangkan yang disebabkan oleh kelainan idiopatik cenderung untuk kambuh.
Kata kunci : eritroderma, penatalaksanaan, prognosis
ABSTRACT
Erythroderma is an inflammatory skin disease that effect nearly the entire cutaneus surface and it is caused by pre-existing cutaneus disease, systemic disease and idiopathic disorder. Hospitalization is usually necessary for initial evaluation and treatment. The long term prognosis is good in patients with drug-induced disease, although the course tends to be remitting and relapsing in idiopathic cases
Key words : erythroderma, management, prognosis
Makalah lengkap terdapat di Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unair/ RSU Dr. Soetomo Surabaya vol 18, no 1 (2006)
1 comment Oktober 26, 2008